Berkelana di Pulau Pinang (1)

Saya dibangunkan oleh petugas kereta kalau sudah sampai di Stasiun Butterworth. Tidurku lelap sekali, untung saja saya tidak kebablasan ke stasiun selanjutnya. Waktu saat itu menunjukkan pukul 5.30 pagi dan langit masih gelap, karena pukul 5.30 pagi di Malaysia itu sama dengan suasana pukul 4.30 pagi di Indonesia. Saya lagi-lagi mengikuti petunjuk yang sudah saya rangkum smart phone, bahwa setelah keluar dari kereta api langsung jalan menuju pelabuhan ferry yang terletak berdekatan. Karena saya naik kereta, kalau mau ke Penang memang sebaiknya menyeberang dari butterworth dengan ferry. Jalan kaki ke pelabuhan ferry cukup dekat, hanya sekitar 200 meter. Kemudian bayar naik ferry nya cukup murah, hanya 1,20 ringgit, dan kalau dari penang ke butterworth itu gratis saja.

Keluar dari kereta langsung senyum liat tulisan ini :)

Keluar dari kereta langsung senyum liat tulisan ini 🙂

Ruang Tunggu Pelabuhan Ferry

Ruang Tunggu Pelabuhan Ferry

Suasana Kapal Ferry Pagi Itu

Suasana Kapal Ferry Pagi Itu

Ferry nya waktu itu tidak begitu ramai, jadi penumpang bebas memilih tempat duduk. Kebanyakan penumpang adalah orang yang sama saya lihat di kereta tadi. Setelah kira-kira 15 menit diatas laut yang tenang, kapalnya pun sandar di pelabuhan Pulau Penang. Kebetulan shuttle bus sudah menanti penumpang ferry ini dan siap mengantarkan ke berbagai tujuan yang berbeda-beda. Tapi saya tidak naik bus, saya ingin jalan kaki saja, sambil mencari penginapan murah di sepanjang perjalanan. Penginapan murah menurut catatan saya terletak di kawasan jalan lebuh chulia.

Bus Rapid Penang Yang Siap Melayani

Bus Rapid Penang Yang Siap Melayani

Sepanjang perjalanan mencari penginapan murah, saya melihat banyak bangunan yang menjadi daya tarik wisata di Pulau Penang, seperti berbagai bangunan heritage, masjid kapitan keling, chinese temple, mahamariamman temple, dan beberapa street art. Capek foto-foto sambil gendong ransel, saya numpang istrahat sambil sarapan di Nasi Kandar Beratur yang terletak di samping masjid kapitan keling. Saya waktu itu memesan nasi, ikan kari, dan teh tarik. Saya lihat cukup banyak yang sarapan disana. Memang menunya enak, masakan india, rasanya agak mirip masakan padang sdikit hehe..

Salah satu Street Art yang say tempi page situ

Salah satu Street Art yang say tempi page situ

Suasana pagi itu yang sepi. Juga nampak bangunan antik berarsitektur cina

Suasana pagi itu yang sepi. Juga nampak bangunan antik berarsitektur cina

Masjid Kapitan Keling

Masjid Kapitan Keling

Warung Nasi Kandar :)

Warung Nasi Kandar 🙂

Disana pula Tuhan mempertemukan saya dengan Zahira, seorang wanita peranakan india-arab-melayu yang mengajak saya makan berdua di mejanya #tsahhh. Katanya dia kasian melihat saya yang kelihatan capek dan kebingungan. Kami lalu berkenalan dan ngobrol banyak disana. Dia bilang kalau tempat makan ini cukup terkenal di Penang, dan sudah menjadi salah satu tempat makan favoritenya. Zahira bekerja di perusahaan provider operator seluler Malaysia yang berafiliasi dengan XL di Indonesia, dan dia juga sudah pernah ke Bandung. Karena menikmati obrolan, dia mengajak saya untuk tour sedikit dengan mobilnya mengelilingi George Town dan sekitarnya, sampai ke Taman Botanical Pulau Pinang sambil menjelaskan secara singkat beberapa tempat penting yang kami lewati. Saya sama sekali tidak menaruh curiga pada Zahira sebagai orang baru, dan tentu saja ajakannya saya terima. Kami melakukan tour sekitar kurang lebih 2,5 jam, dan sangat berkesan. Di beberapa tempat kami berhenti untuk foto-foto. Sayangnya zahira orangnya pemalu dan sulit diajak foto bareng.

Kata Zahira, orang orang ini sedang mengantri untuk dapat tisu gratis

Kata Zahira, orang orang ini sedang mengantri untuk dapat tisu gratis

Sisi lain pulau penang penuh dengan bangunan modern dan gedung tinggi. Kata Zahira salah satu apartemen disana diimiliki oleh Jackie Chan

Sisi lain pulau penang penuh dengan bangunan modern dan gedung tinggi. Kata Zahira salah satu apartemen disana diimiliki oleh Jackie Chan

Saya dan Zahira. Sayangnya wajahnya tidak nampak jelas :)

Saya dan Zahira. Sayangnya wajahnya tidak nampak jelas 🙂

Setelah puas berkeliling, kami berpisah, Zahira menurunkan saya di love line, kawasan lebuh chulia untuk segera menemukan penginapan murah. Jalan lebuh chulia terletak di pusat GeorgeTown (pusat kawasan heritage penang). Tempat ini sangat strategis, banyak penginapan, bar, café, dan street food, dan semacam pusatnya akomodasi wisatawan. Menginap disini cocok bagi yang ingin berkeliling kota dengan berjalan kaki atau naik sepeda. Ibarat Jogja, inilah Malioboronya.

Gang Love Line, di kawasan Lebuh Chulia

Gang Love Line, di kawasan Lebuh Chulia

Saya waktu itu memilih penginapan secara random, dan pilihan saya jatuh pada Heritage 56 di gang Love Line. Sekali masuk, langsung saya tentukan akan menginap disana, kebetulan saat itu saya sudah capek untuk mencari penginapan lagi. Heritage 56 tempatnya lumayan bagus, menempati bangunan tua, dan didesain dengan cukup menarik. Saya memilih type kamar dorm dengan harga 18 ringgit. Dalam penginapan ini saya akan sekamar dengan 18 traveler lainnya. Fasilitas kamarnya adalah kipas angin, sharing bathroom, locker, free wifi dan sarapan pagi. Saya juga diharuskan untuk memberikan deposit senilai 30 ringgit dan akan dikembalikan setelah cek out nanti. Untuk kamar dorm yang ber AC, harga sewanya tentu lebih mahal. Saya harus berhemat karena perjalanan ini masih 1 bulan lagi.

Harga dan Fasilitas Penginapanku :)

Harga dan Fasilitas Penginapanku 🙂

Saya mengisi salah satu kasur di ruangan ini :)

Saya mengisi salah satu kasur di ruangan ini 🙂

Saya langsung taruh tas, mandi, dan tiduran di kasur yang sudah ditentukan. Suhu udara saat itu panas sekali, dan di kamar kami cuma ada kipas angin, yang sepertinya hanya mengipas udara panas, jadi ya udaranya tetap panas. Kebetulan saya dapat kasur dekat jendela, dan berada di posisi atas, jadi masih lebih dapat hembusan angin dari luar dibanding dengan posisi kasur penghuni lainnya.

Jam 3 siang saya sempatkan sholat dulu sebelum keluar. Saya sholat di ujung ruangan kamar, dan ketika sholat beberapa penghuni lain yang bule bule sempat berbisik-bisik dan memfoto saya #krikkrikkrik.. Setelah sholat, ambil semua peralatan dan siap jalan keluar. Hal yang wajib menurutku sebelum keluar adalah meminta peta di resepsionis penginapan. Peta yang diberikan tentu saja peta wisata yang isinya adalah beberapa daya tarik wisata utama di Penang, termasuk wisata kulinernya. Di peta itu juga si resepsionis menunjukan dimana lokasi penginapan tersebut, dan tempat-tempat yang dia sangat rekomendasikan untuk dikunjungi. Oh ya, si resepsionis ini adalah pria kekar asal Filiphina, bisa sedikit berbahasa melayu, dan katanya dua orang pekerja di penginapan tersebut adalah TKW asal Semarang, Indonesia.

Tempat yang pertama saya datangi sore itu adalah Benteng Fort Cornwallis yang dibangun oleh inggris. Benteng ini terletak di tepi pantai, dan berjarak kurang lebih 1 km dari penginapan. Benteng ini menurutku agak mirip sama fort Rotterdam di Makassar. Setelah dari benteng, saya lanjutkan jalan kaki lagi ke beberapa bangunan tua, mecari beberapa street art seperti yang sudah tergambar di brosur/peta yang saya bawa. Saya berjalan kaki lumayan jauh, melewati bangunan-bangunan heritage yang antik, megah dan indah, mencari gambar-gambar street art yang lucu-lucu. Kebetulan cuaca saat itu berawan, jadi tidak ada sengatan sinar matahari.

Fort Cornwallis

Fort Cornwallis

Salah satu sudut benteng :)

Salah satu sudut benteng 🙂

Bangunan heritage

Bangunan heritage

Bangunan heritage

Bangunan heritage

Street Art

Street Art

Street Art

Street Art

Street Art

Street Art

Street art ini lumayan diburu oleh para wisatawan dan menjadi daya tarik wisata baru di Penang. Lokasi street art tersebut sudah ditunjukkan di peta, dan untuk menemukannya gampang-gampang susah. Ketika kita melihat banyak orang asia bergerombol dan foto-foto di area yang ditunjukan oleh peta, kemungkinan besar disitulah tempatnya. Saya mendatangi satu demi satu street art yang ada disana. Setelah capek berburu street art yang jumlahnya cukup banyak, saya menyempatkan diri makan es kacang di depan street art yang bergambar sepeda. Disitu es kacangnya enak sekali. Es kacang dan juga es cendol memang merupakan salah satu kuliner yang wajib dicoba ketika mengunjungi penang. Campuran kacang, susu, agar-agar, jagung, es, dan lain lain bikin rasanya luar biasa, saya sampai pesan dua porsi.

Warung Es Kacang

Warung Es Kacang

Ini dia es kacangnya. Ngiler ga? hehehe..

Ini dia es kacangnya. Ngiler ga? hehehe..

BERSAMBUNG…

Menghabiskan waktu semalam di Kuala Lumpur

Sekitar pukul 9 pagi saya tiba di Kuala Lumpur International Airport 2 atau KLIA2. Mata ini rasanya masih berat untuk dibuka alias mengantuk, karena kurang tidur di Padang. Melangkahkan kaki keluar dari pesawat saya langsung mengikuti petunjuk arah menuju tempat pengambilan bagasi. yang jaraknya lumayan jauh, maklum Bandara KLIA2 ini lumayan besar. Setelah melewati staf imigrasi untuk cap paspor, dan tas ransel sudah dapat, saya langsung bergegas mencari bus menuju KL Sentral. KL Sentral ini semacam pusat intergrasi transportasi darat. Disini ada stasiun kereta, monorail dan juga jadi terminal bus.

Salah satu sisi Bandara KLIA2 :)

Salah satu sisi Bandara KLIA2 🙂

Sampailah saya di tempat keberangkatan bus, sesuai dengan petunjuk dari Backpacker Dunia yang sudah saya rangkum dalam smart phone. Perjalanan dari KLIA2 ke KL Center memakan waktu kurang lebih 1 jam, dan bayarnya cuma 10 ringgit. Ini sangat hemat dibandingkan dengan naik taxi yang tentunya akan berkali lipat lebih mahal. Bus yang saya tumpangi waktu itu adalah Aerobus, dan sopirnya kebetulan orang Indonesia, jadi kami ngobrol sepanjang perjalanan ke KL Central. Pemdangan sepanjang perjalanan ke KL Sentral biasa saja, seperti pemandangan kalo lewat jalan tol di Indonesia. Hanya saja disana lebih rapi dan bersih. Setelah sampai di KL Sentral, saya langsung mencari loket penjualan tiket kerata untuk memesan gerbong sleeper train ke Penang. Rupanya kereta ke Penang baru akan berangkat pukul 21.30 malam. Saya beli saja tiketnya, seharga 40ringgit untuk sleeper train AC, biar nanti bisa tidur dalam kereta. Sengaja pilih yang sleeper, karena memang lagi capek dan butuh tidur. Lagipula untuk menambah pengalaman, karena di Indonesia tidak ada. Pesan yang gerbong ber AC karena dulu pernah dari laos ke Thailand naik sleeper train juga tapi yang non ac, dan itu panasnya lumayan, sampai harus tidur buka baju dan cuma pake celana pendek, trus kaki diatur biar kena angin dari jendela.

Integrasi Transportasi di KL Sentral

Integrasi Transportasi di KL Sentral

Ketika tiket sleeper train ke penang sudah ditangan, saya langsung cari sarapan pagi. Burger King seharga 4 ringgit cukup untuk mengganjal perut. Setelah makan, jalan-jalan bentar dalam KL Sentral, melihat-lihat jualan orang, dan ternyata disana ada yang jual tongsis. Lumayan mahal harganya, hampir sama kayak harga tiket sleeper train. Ya tapi sepertinya ini tongsis original, soalnya lebih bagus bahannya dan lebih kuat. Karena tongsisku sudah saya hibahkan ke Ashanti di Sawahlunto, saya langsung beli saja tongsis baru, lagipula tongsis ini penting bagi solo traveler (ketika bingung mau minta difotoin sama siapa) haha..

Tongsis sudah berpindah tangan, dan saat itu saya kemudian memutuskan untuk jalan-jalan ke Batu Cave untuk memanfaatkan waktu, sambil menunggu kereta nanti malam. Saya membeli tiket kereta komuter ke Batu Cave seharga 2 ringgit. Perjalanan ke Batu Cave lumayan cepat, hanya sekitar 15 menit. Keretanya nyaman, dingin, dan tidak begitu banyak penumpangnya. Sampai di Stasiun Batu Cave, saya langsung turun mengikuti turis lain yang memang punya tujuan yang sama. Pastikan kartu keretanya jangan sampai hilang atau kita salah ambil kartu. Karena nanti di cek lagi, dan saat itu ada turis yang di denda karena kartunya hilang. Stasiun ini memang terletak di depan objek wisata Batu Cave, jadi tinggal keluar stasiun sudah sampai di pintu masuk batu Cave. So, kalau menurut saya naik komuter memang cara yang lebih efisien untuk mengunjungi objek wisata ini.

Suasana Dalam Kereta Komuter

Suasana Dalam Kereta Komuter

Untuk masuk ke Batu Cave dari stasiun saat itu saya tidak perlu bayar. Mungkin memang sudah begitu hehehe.. Oh ya Batu Cave adalah kawasan peribadatan umat Hindu, dan juga menjadi daya tarik wisata di Kuala Lumpur. Disini ada bukit dengan gua yang besar, dan didalamnya terdapat kuil dan ratusan kera. Di depan pintu masuk batu cave terdapat patung Hanoman besar berwarna hijau, namun kurang diminati oleh wisatawan. Objek populer di Batu Cave ini adalah patung Dewa Murugan yang sangat besar. Patung ini bercat emas dan menjadi favorite untuk menjadi background foto, apalagi juga nampak mulut gua yang besar dan ratusan anak tangga yang curam di belakang patung tersebut. Sambil berfoto disana kita juga akan melihat ratusan burung merpati yang jinak-jinak, yang menunggu diberi makan oleh pengunjung.

Narsis di depan patung Dewa Murugan

Narsis di depan patung Dewa Murugan

Kera ekor panjang dan ratusan burung merpati di kawasan Batu Cave

Kera ekor panjang dan ratusan burung merpati di kawasan Batu Cave

Puas berfoto di depan patung Dewa Murugan, saya lalu penasaran dengan gua besar yang ada di belakang sana. Tapi melihat tangganya yang sangat tinggi dan curam, juga cuaca yang cukup panas, bawaannya langsung malas, apalagi harus gendong ransel juga yang beratnya 12kg. Tapi masih penasaran terus, dan akhirnya dengan semangat tukang bubur naik haji, saya kuatkan diri menapaki satu demi satu anak tangga hingga ke anak tangga yang ke 272 di puncaknya. Banyak monyet nakal bermain di sepanjang anak tangga, yang kadang menakuti pengunjung.

272 anak tangga ke mulut gua

272 anak tangga ke mulut gua

Pemandangan tangga dari bawah, langsung malas.

Baru naik beberapa tangga, lihat ke atas, langsung malas.

Pemandangan dari separuh perjalanan ke atas :D

Pemandangan dari separuh perjalanan ke atas 😀

Sampai diatas rasanya hampir pingsan. Capeknya luar biasa. Tapi pemandangan dari atas lumayan keren. Di dalam gua ini tidak terdapat batuan stalagmit dan stalagtit yang bagus, tapi hanya terdapat beberapa penjual souvenir, dan juga kuil tempat umat hindu beribadah. Kebetulan saat itu sedang ada pemotretan model india disana, jadi saya numpang curi kesempatan untuk foto-foto 🙂

Sampai diatas :D

Sampai diatas 😀

Lagi nari-nari..

Lagi nari-nari..

Keluarkan senjata pamungkas, TONGSIS :D

Keluarkan senjata pamungkas, TONGSIS 😀

Suasana di salah satu sudut gua

Suasana di salah satu sudut gua

DSC_4282

Patung-patung

DSC_4319

Merpati bertengger diatas patung

DSC_4269

Sudah sore, saya kemudian pulang ke KL Sentral, dengan cara yang sama seperti waktu saya ke batu cave, yaitu naik kereta komuter. Sampai di KL Sentral numpang makan di Mc D, kebetulan ada wifi gratis disana. Saya hanya mengandalkan koneksi wifi, dan tidak berniat beli kartu sim local Malaysia, karena saya berencana hanya 3 hari saja di Malaysia, dan internet bisa diakses di penginapan atau restoran.

Jam setengah 10 sudah ada panggilan bagi penumpang kereta tujuan Butterworth. Pas keretanya sudah ada, tidak buang-buang waktu, saya langsung naik, dan cari tempat tidur sesuai yang tertera di tiket, Saya menempati tempat tidur di bagian atas, entah karena saya merasa diatas lebih aman dari lalu lalang orang daripada di bawah. Tempat tidurnya lumayan kecil, dan ada tirainya. tapi tidak ada cukup tempat untuk menaruh ransel, jadi ranselnya saya taruh di bagian kaki saja, biar lebih aman. Meskipun berukuran kecil, tapi tempat tidurnya cukup nyaman, udara AC nya dingin, dan seketika bikin saya langsung tertidur.

Suasana dalam gerbong kereta

Suasana dalam gerbong kereta

Beginilah tempat tidurnya :)

Beginilah tempat tidurnya 🙂

Selamat tidur :D

Selamat tidur 😀

Semalam Di Kota Padang

Setelah melewati perjalanan yang berliku liku dari Sawahlunto selama kurang lebih 3 jam, kira-kira pukul 4 pak sopir menepi di jalan Dr Sutomo dan berkata bahwa disinilah tempat pemberhentian terakhir. Saya waktu itu plonga plongo, bingung harus kemana lagi. Untung saja salah seorang penumpang bersama saya tadi (sebut saja namanya Si Abang) memberikan saya petunjuk. Padanya saya berkata bahwa saya ingin ke Pantai Air Manis, tempat batu legenda Malinkundang berada. Lalu Si Abang tersebut mengajak saya ikut bersamanya ke terminal pasar raya Kota Padang dengan sebuah angkot, cukup membayar Rp 5.000. Sepanjang perjalanan Si Abang memperkenalkan dirinya bahwa dia berasal dari Sibolga, Sumatera Utara. Oleh perusahaannya, dia ditugaskan di Sawahlunto, dan saat itu sedang ada urusan di Kota Padang. Si Abang juga berkata bahwa di Kota Padang jangan kelihatan kalem-kalem, tapi harus tegas dan ngobrol agak logat batak, biar tidak mudah dipermainkan sopir, preman, penjual, dan orang-orang yang bisa memanfaatkan kita. Anyway, ada yang unik dari angkutan umum di padang. Meskipun sopirnya agak galak, tapi sebenarnya hati mereka lembut seperti nia daniati. Buktinya semua angkot mereka penuh dengan boneka.

Angkot gaul penuh boneka :)

Angkot gaul penuh boneka 🙂

Boneka dimana-mana

Boneka dimana-mana

Ini juga :)

Ini juga 🙂

Sedang asyik ngobrol di angkot, kami sampai di terminal Pasar Raya. Kami turun dan langsung menghampiri beberapa ojek yang ada disana. Si abang ngobrol dengan logat bataknya, melakukan tawar menwar harga ojek sampai ke Pantai Air Manis. Kebanyakan ojek mematok harga Rp 100.000 sekali jalan, dan 150.000 untuk pulang pergi, cukup mahal memang karena selain jaraknya yang lumayan jauh, juga tidak ada kendaraan umum yang sampai kesana. Karena cukup mahal, saya lalu mencari alternatif lain, yaitu mengambil kombinasi naik angkot + ojek. Dan saat itu juga saya kemudian berpisah dengan Si Abang, untuk menuju ke Pantai Air Manis.

Saya naik angkot sampai ke jalan Sutan Syahrir kira-kira selama 15 menit, dan minta diturunkan di pertigaan jalan ke Pantai Air Manis. Sewa angkotnya hanya sebesar Rp 7.000. Dari tempat saya turun, kemudian saya mencari ojek dan mulai tawar menawar harga untuk ke Pantai Air Manis. Awalnya Pak ojek minta Rp 70.000, tapi saya meminta harga Rp. 30.000 untuk PP, dan akhirnya kami sepakat di harga Rp 50.000. Pak ojek juga bilang kalau jaraknya sangat jauh, jadi sewa ojek memang mahal. Setelah Pak Ojek mengiyakan tawaran saya, kami pun  langsung meluncur ke Pantai Air Manis. Perjalanan ke Pantai Air Manis ternyata memang agak jauh, dan jalannya berliku. Kira-kira 15 menit perjalanan, kami tiba di Pantai Air Manis.  Pak Ojek langsung menunjukan dimana letak Batu Malinkundang yang fenomenal itu.

Sumber kemacetan

Sumber kemacetan

Untuk menuju Batu Malinkundang kita mesti melewati jejeran tenda penjual souvenir khas Kota Padang. Sayangnya kondisinya sedikit gelap dan agak kumuh. Semakin dekat dengan Batu Malinkundang saya semakin takjub. Ya, legenda malinkundang yang dulu cuma saya dengar dari cerita orang tua dan cerita rakyat di buku-buku, saat itu ada tepat dihadapanku. Kira-kira ceritanya begini: Dikisahkan pada jaman dahulu kala ada seorang pemuda miskin yang baik hati bernama Malinkundang, pamit pada ibunya untuk pergi merantau, demi memperbaiki nasib keluarganya. Malin pergi merantau dengan naik kapal milik pedagang besar. Saat merantau, malin dikenal sebagai pekerja yang sangat rajin dan taat, sehingga pada suatu malin dipercaya untuk memimpin usaha besar.  Setelah sukses, malin pun pulang ke kampung halamannya dengan membawa wanita cantik yang telah dipersuntingnya. Ibunya yang mendengar kabar kepulangan malin sangat gembira dan rela menunggu kedatangan malin di pantai air manis. Begitu malin turun dari kapal bersama istrinya, seorang ibu miskin dengan pakaian compang camping datang memeluk malin sambil menangis bahagia. Namun karena sangat malu terhadap bawahannya dan istrinya atas penampilan dan kondisi ibunya yang sangat miskin, malin pun tidak mau mengauki ibunya tersebut, dan mendorong ibunya hingga jatuh ke tanah. Dengan perasaan sangat kecewa, si ibu pun berdoa dan meminta Tuhan untuk mengutuk anaknya.  Kemudian datang badai besar yang yang menghancurkan kapal milik malin. Saat itu juga malin meminta maaf pada ibunya, tapi sudah terlambat karena badannya perlahan-lahan menjadi kaku, lalu berubah menjadi batu. Begitulah kira-kira cerita malinkundang yang saya ketahui. Meskipun batu malinkundang saat itu nampak seperti sebuah patung buatan manusia, tapi tidak mengurangi minat wisatawan untuk mengunjunginya. Entah mungkin ada yang menceritakan malin dengan versi yang lain, tapi inti dari semua cerita itu adalah sama, yakni seorang anak yang dikutuk oleh Tuhan menjadi batu karena durhaka pada ibunya.

Berfoto dengan Batu Malinkundang, dengan latar belakang penjual souvenir :)

Berfoto dengan Batu Malinkundang, dengan latar belakang penjual souvenir 🙂

Sore itu banyak pengunjung yang sibuk foto-foto di dekat batu Malinkundang. Untuk mendapatkan moment yang pas saja, saya harus rela menunggu beberapa menit sampai orang-orang yang lain pada pergi. Disekeliling batu malinkundang juga ada beberapa konstruksi semen yang dibuat menyerupai pecahan kapal, untuk memperkuat interpretasi legenda malin kundang.

Disekeliling batu malinkundang dibuat struktur yang menyerupai kapal pecah

Disekeliling batu malinkundang dibuat struktur yang menyerupai kapal pecah

Setelah puas foto-foto disana, saya pun meluncur kembali bersama Pak Ojek ke jalan besar dimana saya berjumpa dengannya tadi. Lalu kemudian naik angkot kembali menuju ke terminal Pasar Raya. Total yang saya habiskan dari Pasar Raya – Pantai Air Manis – Pasar Raya adalah hanya Rp 64.000. Lumayan lebih irit daripada harus naik ojek dari Pasar Raya yang mematok harga Rp 150.000  dengan rute yang sama.

Suasana pasar raya Padang sore itu

Suasana pasar raya Padang sore itu

Setelah sampai di Pasar Raya, saya langsung mencari angkot menuju rumah teman saya anak Couchsurfing (jejaring sosial traveler) Kota Padang yang sudah saya hubungi sebelumnya, namanya cicilia. Rumahnya berada di kawasan Pasar Alai, dan untuk menuju kesana saya harus naik angkot lagi dari Pasar Raya. Perjalanan ke Pasar Alai kira-kira ditempuh selama 10 menit. Sampai di rumah cicil waktu itu sudah gelap, dan saya disambut oleh cicil dan ibunya yang super ramah. Setelah ngobrol sebentar, saya sempatkan untuk mandi dulu, maklum badan sudah kumuh kayak gembel.

Selamat datang di kompleks alai. Disini ada pasar alai, polsek alai, dan banyak anak-anak alai hehe

Selamat datang di kompleks alai. Disini ada pasar alai, polsek alai, dan banyak anak-anak alai hehe

Sudah wangi, sudah rapi, cicil lalu mengajak saya ke gym, karena beliau mau aerobik hehe.. Setelah aerobik, kembali lagi ke rumahnya, dan kami langsung meluncur untuk wisata kuliner, makan durian dengan campuran ketan hitam dan kelapa parut. Rasanya benar-benar mantap. Sayangnya cicil tidak mau membantu saya menghabiskan durian karena beliau takut berat badannya naik lagi, biasalah seperti kebanyakan perempuan 🙂

Diantar cicil makan durian + ketan + parutan kelapa

Diantar cicil makan durian + ketan + parutan kelapa

Setelah puas makan durian, kami meluncur ke sebuah hotel berbintang untuk bertemu beberapa traveler Couchsurfing dari Jambi dan Jerman yang sudah janjian ketemuan sama Cicil sebelumnya. Ngobrol sebentar bersama mereka di hotel, kami lalu melanjutkan obrolan santai tersebut di sebuah warung tenda yang menyajikan makanan khas Kota Padang. Saya sampai lupa namanya. Tapi tempatnya enak dan makanannya juga enak.

Bertemu couchsurfer lain  yang kebetulan sedang di Padang

Bertemu couchsurfer lain yang kebetulan sedang di Padang

Sharing pengalaman sambil makan malam bersama traveler jambi dan jerman

Sharing pengalaman sambil makan malam bersama traveler jambi dan jerman

Sudah kenyang dan sudah mengantuk, saya dan cicil pun pulang ke rumahnya cicil. Saat itu sudah pukul setengah 12 malam. Sempat diskusi sedikit dengan bundanya cicil tentang sholat jamak, kebetulan beliau adalah guru agama. Pukul setengah 2 malam saya masuk kamar dan rebahan di kasur empuknya cicil, dan pukul 4 pagi saya sudah bangun lagi untuk bersiap-siap ke bandara.

Jam 5 pagi saya pamit pada keluarga ini dan meluncur ke Bandara Minangkabau diantar oleh seorang bapak ojek yang juga sudah kenalan dekat sama cicil. Perjalanan ditempuh kira-kira setengah jam, dan saya lupa membayar berapa waktu itu. Lumayan murah dan sangat membantu sekali. Terima kasih banyak buat cicil, bundanya cicil, pak ojek, si abang, dan semua yang sudah membantu perjalanan saya selama di Kota Padang. Tanpa mereka, mungkin saya mengalami banyak kesusahan.

*Pukul 7 pagi pesawat Air Asia mengantar saya ke Kuala Lumpur. Semoga bisa kembali ke Sumatera Barat dan bertemu kembali dengan orang-orang yang telah tulus membantu saya di sana. Special thanks buat cicil dan dina yang telah banyak membantu. Semoga kebaikan kalian dibalas dengan pahala yang berlipat dari Allah. Aamiin*

Mengintip Kota Sawahlunto

Sekitar pukul 2 siang saya tiba di Sawahlunto. Menempuh perjalanan sekitar 45 menit dari Batusangkar, dengan pemandangan alam yang indah. Mobil angkutan umum menurunkan saya di terminal kecil yang berada tepat berada di pusat kota. Begitu turun dari mobil, banyak bapak-bapak ojek yang menawaran motornya, tapi dengan halus saya tolak sambil terus berjalan menjauh dari terminal. Saya sebenarnya bingung begitu turun dari angkutan umum, tidak tau mau kemana, karena keterbatasan informasi yang saya peroleh dari internet tentang kota ini. File-file informasi perjalanan yang saya kumpulkan ada di flashdisk, lupa saya masukkan ke HP, dan saya butuh komputer untuk membuka file-file tersebut. Jadilah tujuan pertama saya adalah menemukan rental komputer atau warnet. Bertanya pada seorang warga, saya ditunjukkan sebuah warnet yang ada tepat didekat terminal, dan ternyata sedang penuh oleh anak-anak yang bermain game.

Perjalanan ke Sawahlunto

Perjalanan ke Sawahlunto

Warnet penuh anak-anak yang sibuk main game

Warnet penuh anak-anak yang sibuk main game

Kemudian saya melanjutkan perjalanan lagi menggendong ransel ke depan Hotel Ombilin. Kebetulan Kota Sawahlunto ini sangat kecil, jadi semua sudut kota bisa dijelajahi dengan berjalan kaki. Hotel Ombilin ini kabarnya hotel terbaik di Sawahlunto,  harganya Rp 350,000 keatas, tapi saya tidak mungkin menginap disana demi penghematan anggaran. Kabar menegangkannya adalah pada hari itu sampai besoknya, semua penginapan di Sawahlunto sudah penuh karena banyak tamu dari berbagai daerah yang datang untuk menghadiri seminar nasional hukum tata negara yang dihadiri oleh Prof Jimly Asshidiqie. Oh ya, Hotel Ombilin juga merupakan salah satu bangunan heritage peninggalan Belanda yang dahulu digunakan sebagai penginapan bagi para tamu Belanda.

Hotel Ombilin

Hotel Ombilin

Capek bawa ransel yang berat, saya sempatkan untuk istrahat di Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto, tepat di depan Hotel Ombilin. Bangunan ini adalah salah satu bangunan heritage peninggalan Belanda yang dibangun pada tahun 1910 dengan nama “Gluck Auf”, digunakan sebagai gedung pertemuan dimana para pejabat Belanda berkumpul untuk berpesta. Gedung ini juga dahulu disebut sebagai gedung bola, karena digunakan sebagai tempat bermain bowling dan billiard. Setelah kemerdekaan Indonesia, gedung ini dijadikan sebagai Gedung Pertemuan Masyarakat (GPM), kemudian menjadi kantor Bank Dagang Negara, lalu setelah itu dijadikan sebagai kantor oleh Bank Mandiri hingga tahun 2005. Lalu pemerintah merevitalisasi gedung ini dan dijadikan sebagai Gedung Pusat Kebudayaan Kota Sawahlunto sejak tahun 2006. Kebetulan di halaman samping Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto siang itu banyak penjual makanan. Saya pesan dua porsi es teler di salah satu gerobak milik Mas Bunga (bukan nama sebenarnya), harganya Rp 10.000. Sambil mencicipi es campur yang sangat segar, saya ngobrol-ngobrol dengan Mas Bunga, tentang Kota Sawahlunto. Padanya saya bertanya tentang letak warnet terdekat, dan juga tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi sore nanti. Mas Bunga menunjuk sebuah bangunan ruko tepat dibelakang saya, katanya di jejeran situ ada warnet. Setelah makan saya langsung pikul ransel lagi, menuju ke warnet itu. Sampai di warnet, sama dengan kondisi warnet sebelumnya, penuh oleh anak-anak yang bermain game.

Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto

Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto

PKL di samping gedung pusat kebudayaan

PKL di samping gedung pusat kebudayaan

Lama menunggu anak-anak main game yang tak kunjung selesai, saya berjalan-jalan di sekitar warnet, dan melihat sebuah stasiun kereta api. Ya itu adalah stasiun kereta api sawahunto yang saat ini sudah dijadikan museum kereta api. Saya sempatkan mengunjungi museum itu, dengan biaya masuk sebesar Rp 3.000 rupiah. Museum ini lumayan kecil, menyimpan barang-barang tua peninggalan  sejarah perkeretaapian di Sawahlunto dan juga beberapa foto-foto tua masa lampau Kota Sawahlunto. Tempat ini wajib dikunjungi kalau kita datang ke sawahlunto. Disini juga dijual souvenir untuk wisatawan, terdapat tourist information center, dan juga peta sebaran daya tarik wisata di Kota Sawahlunto. Dari peta itu saya memperoleh beberapa petunjuk tempat-tempat yang perlu saya kunjungi.

Mengunjungi Museum Kereta Sawahlunto

Mengunjungi Museum Kereta Sawahlunto

Salah satu sudut ruangan dalam museum kereta

Salah satu sudut ruangan dalam museum kereta

Pusat Informasi

Pusat Informasi

Peta sebaran daya tarik wisata di Sawahlunto

Peta sebaran daya tarik wisata di Sawahlunto

Stasiun/Museum Kereta Sawahlunto

Stasiun/Museum Kereta Sawahlunto

Setelah puas bermain-main di Museum Kereta Api Sawahlunto, saya menuju sebuah masjid besar dengan arsitektur unik yang berjarak kira-kira 200 meter dari Museum Kereta Api. Masjid tersebut adalah Masjid Agung Nurul Islam. Gedung masjid tersebut dibangun oleh Belanda pada tahun 1894 yang awalnya berfungsi sebagai pusat pembangkit listrik tenaga uap. Kemudian pada masa pergolakan kemerdekaan Indonesia, gedung ini digunakan sebagai gudang persenjataan tentara Indonesia. Lalu setelah kemerdekaan yaitu pada tahun 1952, gedung tersebut dijadikan sebagai rumah ibadah umat muslim. Keunikan masjid ini adalah dari sisi arsitektur kolonial belanda yang dimilikinya, memiliki ruang bawah tanah yang dahulu digunakan sebagai tempat perlindungan dan penyimpanan senjata, dan juga masjid ini memiliki cerobong asap yang sangat tinggi, yang kini dijadikan sebagai menara masjid. Konon katanya menara masjid ini merupakan yang tertinggi di Indonesia.

Masjid Agung Nurul Islam Sawahlunto

Masjid Agung Nurul Islam Sawahlunto

Setelah menyempatkan diri sholat di masjid tersebut, saya kembali ke warnet yang tadi untuk membuka kumpulan file dan berusaha menemukan daftar rekomendasi penginapan murah yang sudah saya kumpulkan jauh-jauh hari. Kebetulan saat itu di warnet ada seorang anak yang sudah selesai main game, dan tidak ada lagi yang mengantri. Sekejap saya langsung duduk di depan komputer dan membuka file-file dari flashdisk yang saya bawa. Seorang bapak yang duduk disebelahku ikut membantu untuk menentukan mana penginapan yang lebih bagus dari daftar yang telah saya buat, baik itu dari segi harga, kualitas dan jarak kedekatan dengan beberapa daya tarik wisata yang ada di Kota Sawahlunto. Tapi beberapa penginapan itu kemungkinan sudah penuh oleh para tamu seminar nasional. Saya memutuskan untuk mendatangi Hotel Laura yang ada di jalan Ahmad Yani yang berjarak hanya kurang lebih 100 meter dari warnet tempat saya berada saat itu. Sampai disana, saya disambut oleh keluarga yang sudah tua, dan dia bilang kalau ada kamar yang baru saja ditinggal tamunya cek out. Setelah melihat-lihat kondisi kamarnya, saya langsung setuju, dengan harga Rp 125.000. Hotel Laura sebenarnya adalah sebuah ruko, dan tidak nampak sebagai sebuah penginapan. Jumlah kamar yang disediakan hanya sedikit. Letak hotel laura tepat di pusat kota, dekat dengan atm, terminal, pasar, dan lain-lain. Pokoknya sangat strategis. Namun fasilitas penginapan yang disediakan sangat minim. Saya menghuni kamar di lantai dua yang cukup gelap, dengan dua kamar tidur, sebuah kipas angin, dan kamar mandinya berada di luar (sharing bathroom). Tapi lumayan lah untuk melepas penat, semalam saja. Pemiliknya juga sangat ramah. Saya seperti menginap di rumah keluarga dan diperlakukan sebagai anggota keluarga. Tapi bagi pengunjung yang sangat mengutakan kenyamanan, mungkin tidak tertarik untuk menginap di penginapan ini. Setelah ngobrol dan minum teh bersama pemilik penginapan, saya langsung masuk kamar, menaruh tas, dan rebahan diatas kasur, ingin tidur. Tidak lupa saya  mengatur alarm di HP saya untuk bangun 40 menit lagi. Sekitar pukul setengah 5 sore saya sudah mandi, dan bersiap untuk menjelajahi kota kecil itu lagi. Sambil menenteng kamera DSLR, saya berjalan keluar dari penginapan. Tiba-tiba dihampiri seorang Ojek yang menawarkan ingin mengantar jalan-jalan. Setelah tawar-tawaran harga dengan Pak Ojek, kami sepakat di harga Rp 10.000 untuk mengunjungi bukit cemara, pulang pergi. Saya langsung duduk dibelakang Pak Ojek, dan diantar ke bukit cemara dengan perjalanan kira-kira 5 menit. Sampai diatas bukit cemara, sudah ada beberapa pasangan muda-mudi yang asyik foto-foto dengan latar belakang Kota Sawahlunto dari ketinggian. Langsung saja saya ikutan disana. Pak Ojek sangat tidak keberatan untuk diminat tolong menjepret saya dengan kamera HP.

Pemandangan Kota Sawahlunto Dari Bukit Cemara

Pemandangan Kota Sawahlunto Dari Bukit Cemara

Setelah puas foto-foto disana, kami langsung turun dari bukit melewati jalan yang lain. Dalam perjalanan saya nego sama Pak Ojek untuk minta diantarkan berkeliling Kota Sawahlunto, dengan tambahan tarif Rp 10.000. Beliau tidak menolak, dan saya langsung dibawa melewati beberapa tempat seperti Museum Goedang Ransoem, Museum Lubang Mbah Suro, dan beberapa bangunan heritage lainnya. Pak Ojek juga sangat antusias menceritakan sejarah beberapa bangunan yang ada disana. Akhirnya saya minta diturunkan oleh Pak Ojek di taman segitiga Kota Sawahlunto. Taman segitiga ini sangat ramai oleh keluarga yang rekreasi dan wisata kuliner. Diberi nama taman segitiga karena memang bentuknya segitiga. Letaknya tepat ditengah Kota Sawahlunto, yaitu di depan kantor PT Bukit Asam. Sekali lagi, kota Sawahlunto ini sangat kecil, bisa dijangkau dengan jalan kaki dari ujung ke ujung, dan berada di sebuah lembah, kira-kira bentuknya seperti sebuah mangkuk. Jadi mau kemana-kemana dekat saja.

Pedagang di Taman Segitiga

Pedagang di Taman Segitiga

Kantor PT Bukit Asam

Kantor PT Bukit Asam

Malam hari di Kota Sawahlunto, saya sempatkan untuk menyusuri beberapa ruas jalan, mengamati aktvitas kotanya. Kota ini tidak begitu ramai, namun terdapat beberapa rumah makan maupun pedagang kaki lima yang berjualan di beberapa ruas jalan. Suara sirine mobil yang sedang membawa pejabat turut meramaikan suasana malam itu. Saya mampir ke sebuah warung makan disebelah penginapan saya. Disana saya memesan semangkuk mie rebus dan sebotol air mineral. Sambil menunggu makanan tiba, saya berkenal dengan Dina, gadis manis pemilik warung makan itu. Dina banyak bercerita tentang sawahlunto dan keluarganya. Dalam waktu setengah jam saya dan dina sudah akrab, dan kami janjian ketemuan pukul 9 besok pagi. Dia akan mengajak saya jalan-jalan ke beberapa tempat yang menarik dengan motornya. Asyik 🙂

Bersama Dina alias Ashanti hehe..

Bersama Dina alias Ashanti hehe..

Seperti biasa, jam 5 saya sudah bangun. Setelah sholat subuh, saya langsung jalan-jalan melihat-lihat suasana Kota Sawahlunto di pagi hari. Pagi hari di Kota Sawahlunto cukup sepi, hanya nampak beberapa orang sedang menyapu di depan toko mereka masing-masing. Gunung-gunung yang mengelilingi kota juga tampak sedang diselimuti oleh kabut. Tempat yang pertama saya datangi pagi itu itu adalah Gereja Katolik Santa Barbara Sawahlunto yang berjarak kira-kira 100 meter dari penginapan. Gereja tersebut merupakan salah satu bangunan peninggalan Belanda yang dibangun pada tahun 1924 dengan fungsi yang sama hingga saat ini yaitu sebagai rumah ibadah umat katolik. Waktu lagi asyik foto-foto di depan gereja, salah satu benda kecil dari tas kamera saya jatuh. Jadi harus menghabiskan belasan menit untuk bolak-balik menyibak bunga dan rumput, tapi tak juga menemukan benda yang saya cari. Dengan kecewa saya harus jalan lagi ke tempat yang lain.

Gereja Katolik Santa Barbara, Sawahlunto

Gereja Katolik Santa Barbara, Sawahlunto

Baru saja melangkahkan kaki meninggalkan pencarian yang tidak menghasilkan apa-apa, tiba-tiba seorang pria dengan postur tubuh yang tinggi dan agak gemuk, ditemani oleh seorang satpol PP lewat di depan saya sambil melempar senyum dan menyapa “Selamat pagi, ayo ikut jogging sama saya..”. Tidak berpikir lama, saya langsung ikut jalan sama si bapak, bertiga dengan seorang satpol PP yang mengawal bapak itu. Saya tidak menyangka bisa bertemu Prof Jimly Asshidiqie dan jalan bareng sama beliau. Kalau saja saya tidak mencari barang saya yang hilang, saya tidak mungkin bertemu dengan bapak Prof Jimly Asshidiqie, sang guru besar hukum tata negara dan juga mantan ketua MK pertama Indonesia.

Silo, tempat pengolahan batubara

Silo, tempat pengolahan batubara

Kami berjalan mengitari Kota Sawahlunto, dan beberapa kali kami berhenti di depan bangunan heritage untuk memandangi desain arsitekturnya. Sepanjang jalan juga si bapak menanyakan asal saya dari mana, kerja dimana, kuliah dimana, dalam rangka apa saya ke Sawahlunto, dan berbagai pertanyaan lain, hingga beliau bertanya tentang judul thesis yang akan saya ambil nanti. Si bapak juga ikut berkomentar tentang potensi pariwisata Kota Sawahlunto, hal-hal yang bisa merusak identitas Kota Sawahlunto, dan lain sebagainya. Setelah sejam mengitari Kota Sawahlunto bersama si bapak, kami berpisah di depan rumah jabatan Walikota Sawahlunto. Si bapak masuk ke dalam rumah itu dan saya kembali jalan-jalan melihat sudut kota yang lain. Menurut satpol pp yang menemani kami jalan, si bapak akan mengikuti senam sehat bersama warga Kota Sawahlunto di stadion sepak bola dekat gereja tempat kami berjumpa tadi.

Bersama Pak Prof Jimly Asshidiqie

Bersama Pak Prof Jimly Asshidiqie

Bersama Pak Prof Jimly Asshidiqie

Bersama Pak Prof Jimly Asshidiqie

Nonton orang senam di stadion Sawahlunto

Nonton orang senam di stadion Sawahlunto

Sawahlunto Pagi Itu, masih sepi hehe

Sawahlunto Pagi Itu, masih sepi hehe

Pukul setengah 9 pagi, saya sudah mandi, packing ransel, dan sarapan di penginapan. Kebetulan si ibu pemilik penginapan membuatkan saya sarapan lontong kuah padang, dengan segelas teh hangat manis. Oh iya, pagi ini saya ada janji akan jalan bareng Dina. Begitu jam 9, saya langsung nyebrang dari penginapan ke warungnya Dina, dan pamit sama ibunya untuk mengajak Dina keluar. Tidak lama kemudian kami langsung boncengan naik motor. Tempat yang kami akan datangi adalah Bukit Poland. Bukit ini letaknya dekat saja, tapi untuk mencapainya harus melalui tanjakan yang sangat curam. Sampai-sampai motor matic kami tidak sanggup lagi menanjak dan mesinnya mengeluarkan asap. Terpaksa motornya kami tinggal di tengah jalan, dan kami melanjutkan perjalanan ke puncak bukit dengan berjalan kaki. Capek sekali rasanya, tapi terbayar setelah sampai di puncak bukit. Pemandangannya luar biasa keren. Dari sini pemandangan seluruh Kota Sawahlunto bisa kelihatan. Bukit Poland ini katanya adalah tempat pacaran, dan lokasinya lebih tinggi daripada Bukit Cemara yang saya datangi kemarin.

Ancang-Ancang Tanjakan ke Bukit Poland

Ancang-Ancang Tanjakan ke Bukit Poland

Dina lagi capek hehe

Dina lagi capek hehe

Pemandangan Kota Sawahlunto Dari Bukit Poland

Pemandangan Kota Sawahlunto Dari Bukit Poland

Masji Agung Nurul Islam

Masji Agung Nurul Islam

Bahagianya si Dina di foto-foto

Bahagianya si Dina di foto-foto

Saya :)

Saya 🙂

Setelah puas foto-foto dan lap keringat, kami turun bukit lagi, Motor yang tadi kami parkir di tepi jalan sudah bisa dipakai lagi sepertinya. Perjalanan kami selanjutnya adalah mengunjungi Museum Goedang Ransoem, yaitu kompleks bangunan bekas dapur umum para pekerja tambang batu bara saat masa pemerintahan kolonial Belanda. Gedung ini dibangun pada tahun 1918, meliputi dapur umum yang dilengkapi oleh dua buah gudang besar dan steam generator (tungku pembakaran), untuk memasak 3.900 kg beras setiap hari bagi para pekerja tambang batu bara. Bangunan lainnya adalah menara cerobong asap, pabrik es batangan, rumah sakit, kantor koperasi tambang batubara, penggilingan padi, rumah kepala ransum, rumah karyawan, pos penjaga, rumah jagal hewan, dan hunian untuk kepala rumah potong hewan. Harga tiket masuk museum ini adalah Rp4.000 untuk dewasa, yang dibuka dari pukul 08.00 pagi hingga pukul 16.00 sore. Kami juga menyempatkan diri untuk mengunjungi sebuah industri rumahan pembuatan tahu dan susu kedelai tepat di belakang museum Goedang Ransoem ini.

Museum Goedang Ransoem

Museum Goedang Ransoem

Museum Goedang Ransoem

Museum Goedang Ransoem

Denah Museum Goedang Ransoem, Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Gudang_Ransoem

Denah Museum Goedang Ransoem, Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Gudang_Ransoem

Steam generator (tungku pembakaran) buatan Jerman tahun 1894

Steam generator (tungku pembakaran) buatan Jerman tahun 1894

Industri Pembuatan Tahu di Belakang Museum Goedang Ransoem

Industri Pembuatan Tahu di Belakang Museum Goedang Ransoem

Setelah itu kami boncengan lagi ke Info Box (Museum Batu Bara Lubang Mbah Suro), yang berjarak  tidak sampai 100 meter dari Museum Goedang Ransoem. Gedung info box ini memiliki desain yang sangat menarik, seperti bangunan kolonial belanda namun tampak lebih modern dan mewah. Kabarnya gedung ini dahulu merupakan gudang penumpukan batubara dari lubang tambang mbah suro. Untuk masuk ke museum ini, cukup membayar Rp 12.000 saja. Di dalam info box ini kita bisa melihat foto-foto aktifitas penambangan pada masa lampau di sawahlunto, benda/ alat-alat yang digunakan dalam penambangan batubara, serta foto dan benda peninggalan orang rantai. Orang rantai ini sendiri adalah para pekerja paksa yang diikat dengan rantai, disiksa dan dipaksa menambang batubara di dalam terowongan. Selain melihat barang peninggalan, foto-foto, dan video, kita juga akan diajak untuk masuk ke dalam terowongan batubara “lubang mbah suro”, dan ditemani oleh seorang guide. Untuk masuk ke terowongan ini, kita harus mengenakan sepatu dan helm yang sudah disediakan, dan dilarang membawa tas, korek api, dilarang berkata-kata yang berlebihan alias takabur, dan sebagainya. Sementara sewa guide katanya terserah kita saja.

Tampak Lubang Mbah Suro dari gedung Info Box

Tampak Lubang Mbah Suro dari gedung Info Box

Patung Mbah Suro

Patung Mbah Suro

Menurut informasi, terowongan (lubang) Mbah Suro awalnya dinamakan Lubang Soegar, yang merupakan lubang pertama yang dibuka oleh Belanda di kawasan soegar pada tahun 1898, dengan pekerja yang dibawa dari berbagai penjara di nusantara. Pada saat itu, pemerintah kolonial Belanda mendatangkan mandor dari jawa yang bernama Surono, yang lebih akrab disapa Mbah Suro. Kegiatan penambangan batubara di Sawahlunto kemudian dihentikan karena tingginya rembesan air ke dalam gua dan juga tingginya kadar gas metana. Terowongan tersebut akhirnya ditutup pada tahun 1932 dan baru dibuka lagi pada tahun 2007 untuk dibersihkan dan dijadikan sebagai objek wisata. Warga setempat menamakan terowongan ini sebagai lubang mbah suro, dan dianggap sebagai tempat yang sangat angker selama puluhan tahun, karena banyak pekerja paksa (orang rantai) yang mati di dalam terowongan tersebut. Pada saat pembersihan terowongan tahun 2007, ditemukan banyak tulang dan tengkorak manusia di dalam terowongan tersebut. Kini Lubang Mbah Suro telah dibuka sebagai objek wisata “Dark Tourism” di Sawahlunto. Saat memasuki terowongan ini kita akan melihat dinding terowongan yang terbuat dari batu bara, dan juga banyak mata air di sela-sela batuan tersebut.  Terowongan ini berada di bawah rumah-rumah penduduk, dan sebenarnya masih panjang untuk dijelajahi. Namun demi alasan keamanan, terowongan yang saat ini dibuka untuk wisatawan baru sebagian saja. Kita akan masuk di terowongan ini kira-kira sepanjang 200 meter dan kita akan keluar dari sisi lubang lain yang terletak di kawasan perumahan penduduk.

Saya dan Dina di depan Lubang Mbah Suro

Saya dan Dina di depan Lubang Mbah Suro

Terowongan yang belum dibuka bagi pengunjung

Terowongan yang belum dibuka bagi pengunjung

Terowongan ini panjang dan gelap

Terowongan ini panjang dan gelap

Puas “bermain-main” di museum ini, saya langsung diajak oleh Dina ke Warung Pical alias warung pecel yang letaknya diatas bukit. Penjualnya adalah keturunan jawa yang sudah sangat lama tinggal di Sawahlunto. Ya di Kota Sawahlunto ini sangat banyak etnis jawa. Kira-kira lebih dari separuh warga Sawahlunto punya darah jawa. Mereka dibawa oleh belanda ke sawahlunto sebagai pekerja paksa, dan tinggal di Sawahlunto hingga beberapa generasi.

Warung Pical

Warung Pical

Setelah sholat jumat di masjid dekat penginapan, saya langsung kembali ke penginapan, cek out, dan bergegas jalan kaki ke terminal yang lumayan dekat dari penginapan itu. Disana saya disambut beberapa orang yang dengan ramah memandu saya untuk berangkat ke Kota Padang. Saya lupa harga tiketnya ke kota padang, kalau tidak salah kurang lebih Rp 15.000. Setelah beli tiket, seorang pria bisu dan sangat baik hati datang mengangkat tas saya dan mengaturnya di dalam mobil. Mobil yang akan mengantar saya dan para penumpang lainnya ke Kota Padang terlihat cukup unik, didesain agar mirip dengan Mak Item, lokomotif legendaris dari sawahlunto. Kira-kira pukul setengah 2 mobil itu pun berangkat ke Kota Padang.  Padang, im coming 🙂

Angkutan ala Mak Item

Angkutan ala Mak Item

Berikut beberapa foto sudut kota Sawahlunto:

Pusat Kota Sawahlunto :)

Pusat Kota Sawahlunto 🙂

Gereja Katolik Santa Barbara

Gereja Katolik Santa Barbara

Ashanti :)

Ashanti 🙂

Sawahlunto telah siap untuk dikunjungi wisatawan

Papan seperti ini terdapat di beberapa daya tarik wisata di Kota Sawahlunto, berisi deskripsi singkat tentang daya tarik wisata tersebut. Sawahlunto telah siap untuk dikunjungi wisatawan.

9 DSC_4038

Batusangkar hari itu…

Tidak ada ayam berkokok rupanya di Kota Batusangkar, atau hanya perasaanku saja, atau mungkin juga saya yang bangun lebih awal sebelum para ayam bangun. Sekitar pukul 05.00 pagi saya sudah bangun. Kaki rasanya pegal-pegal dan demam saya sepertinya sudah benar-benar sembuh. Setelah sholat subuh di musholah penginapan, saya langsung ambil kamera, bergegas keluar penginapan, dan mulai menyisir kota kecil ini dengan jalan kaki. Pagi itu Kota Batusangkar berkabut cukup tebal, dan masih sedikit gelap. Kira-kira jarak pandang hanya berkisar 200 meter. Sepi, kesan pertama pagi itu. Tapi berjalan sedikit ke arah pasar, suasana sedikit lebih ramai. Lebih berisik.
Saya sangat suka masuk pasar. Biasanya ke kota manapun saya pergi, saya suka menyempatkan diri untuk masuk pasar meskipun cuma sebentar. Sekedar melihat-lihat ada apa yang dijual disana, dan bagaimana proses jual beli disana. Biasanya ada yang unik. Di pasar Batusangkar, saya cuma melihat-lihat di sisi luarnya saja, karena pukul setengah 6 belum banyak orang ang menjual, mereka masih sibuk bongkar muat barang. Kebanyakan yang dijual disisi luar pasar adalah sayuran, terutama bawang dan cabai. Para penjual dan pembeli juga asyik bercakap dan sesekali berteriak dengan nada yang tinggi. Ya tentu dengan bahasa daerah/lokal mereka. Rasa-rasanya saya sedang menonton film malin kundang hehe..

Kabut tebal di Batusangkar

Kabut tebal di Batusangkar

Penjual Kelapa

Penjual Kelapa

Pukul 08.00 pagi, Kota Batusangkar masih juga diliputi kabut, ya meskipun sudah agak berkurang. Sambil duduk-duduk melihat orang mondar-mandir di sana, saya sempatkan untuk sarapan. Menu yang saya pilih kali ini adalah lontong padang. Lumayan enak dan murah, harganya cuma Rp 5000. Setelah perut terisi, saya putuskan untuk pulang saja, kebetulan hape saya sudah lowbet.

Kabut di Kota Batusangkar

Kabut di Kota Batusangkar

Jam 10 pagi, saya sudah mandi, sudah wangi, sudah rapi. Saatnya tidur. Ehh… tidak, saya sudah janjian dengan Pak Sihen, akan diantar jalan-jalan ke beberapa tempat yang unik. Sebelum jam 10 Pak Sihen sudah datang ke kamar saya, dan tanpa banyak bercakap, kami langsung keluar penginapan dan meluncur naik motor ke beberapa objek wisata yang sudah dibicarakan semalam, terutama Istana Pagaruyung. Ternyata objek wisata yang kami bahas tadi malam akan kami lewati dalam satu jalur jalan menuju Istana Pagaruyung dan letaknya tidak begitu saling berjauhan satu sama lain.

Belum sampai 5 menit duduk di boncengan Pak Sihen, saya sudah sampai di tempat yang pertama, yaitu Prasasti Adityawarman. Tempat ini terletak tepat ditepi jalan menuju Istana Pagaruyung dan tidak dikenakan biaya sama sekali untuk masuk kesini. Prasasti Adityawarman adalah salah satu peninggalan bersejarah yang dimiliki oleh masyarakat Minangkabau. Warga sekitar lebih mengenal prasasti ini dengan sebutan batu basurek, yang secara harfiah berarti batu bertulis. Tulisan di batu-batu ini merupakan tulisan jawa kuno dan dalam bahasa sansekerta. Untuk info lebih jelas mengenai prasasti ini, silahkan klik disini..

20140529_102351

Plang Prasasti Adityawarman

20140529_102242

Prasasti Adityawarman

Prasasti Adityawarman

Prasasti Adityawarman

Sementara itu diseberang jalan di depan prasasti adityawarman, ada rumah gadang Bundo Kanduang. Karena pagar rumah ini dikunci, jadinya saya tidak bisa masuk dan tidak tau cerita tentang rumah ini. Pagarnya sebenarnya pendek, dan bisikan setan di telinga saya bilang kalau pagar itu bisa dipanjat atau malah bisa dicabut. Untung saya tidak mendengarkan bisikan setan, jadi saya cuma mengamati dari luar saja. Berdasarkan info yang saya peroleh sebelumnya, rumah ini kini dijadikan museum dan menyimpan beberapa benda pusaka terkait dengan sejarah kerajaan Pagaruyung.

20140529_102441

Rumah Gadang Bundo Kanduang

Kemudian jika kita berjalan lagi sedikit mengikuiti jalan raya, kita akan menjumpai sebuah pemakaman kuno yang dinamakan Ustano Rajo Alam. Ustano Raja Alam ini merupakan kompleks pemakaman raja-raja Pagaruyung dan keluarganya. Salah satu yang dimakamkan disana adalah Rajo Alam, yaitu raja pertama Minangkabau. Pemakaman ini terlihat sangat unik, dipagari dengan batu-batu bulat hijau diselimuti lumut, dan batu nisannya berbentuk melengkung seperti ekor kucing (ini menurut imajinasi saya sendiri). Pemakaman ini sangat rindang, dipayungi oleh pohon-pohon beringin. Dibawah salah satu pohon beringin yang berada di tepi jalan, terdapat susunan batu-batu yang diatur sedemikian rupa menyerupai tempat duduk, dan ditengahnya diletakkan sebuah batu besar yang pipih menyerupai meja. Menurut Pak Sihen batu-batu itu adalah tempat duduk para bangsawan jaman dulu ketika sedang bermusyawarah. Kalau sekarang ibaratnya tempat nongkrong raja-raja sambil facebookan sambil minum kopi lah kira-kira. Tidak banyak informasi yang saya dapat dari tempat ini karena tidak ada penjelasan apa-apa, selain plang nama pemakaman dan plang himbauan untuk tidak berbuat syirik di pemakaman ini.

DSC_3936

Himbauan untuk tidak berbuat syirik di makam

DSC_3918

Pemakaman Ustano Rajo Alam

DSC_3943

Tempat nongkrong raja-raja

DSC_3950

Tempat nongkrong raja-raja

Setelah puas foto-foto, Pak Sihen mengajak saya melanjutkan perjalanan dan baru sekitar 2 menit diatas motor kami berhenti lagi dan mampir di sebuah bangunan rumah gadang yang sangat indah, namanya Istana Silindung Bulan. Tidak ada informasi yang saya peroleh dari bangunan indah ini, dan juga tidak ditarik sewa tiket masuk, jadi saya hanya foto-foto sebentar di halaman depannya dan melanjutkan kembali perjalanan. Untuk informasi tentang Istana Silindung Bulan, silahkan buka web ini.

Sangat disayangkan sebenarnya beberapa objek wisata tersebut masih tidak dilengkapi dengan pemandu atau deskripsi singkat yang dapat menceritakan mengenai sejarah/asal usul peninggalan sejarah tersebut sehingga kurang memberikan manfaat edukasi bagi para pengunjung lugu seperti saya.

20140529_105141

Istana Silindung Bulan

20140529_105153

Istana Silindung Bulan

Pak Sihen kembali membonceng saya di sepeda motornya, dan tidak lama kemudian sampailah kami di sebuah bangunan rumah gadang yang sangat besar, megah dan cantik, yaitu Istano Basa Pagaruyung, atau Istana Besar Pagaruyung. Saat itu terik matahari sudah menyengat, dan suasana di istana ini sangat ramai oleh para pengunjung. Tidak cuma pengunjung, tapi juga ada badut, tukang foto, dan beberapa penjual. Banyak para pengunjung adalah pelajar, dan juga rombongan keluarga. Diantaranya saya mendengar beberapa orang berbicara dengan aksen kental melayu Malaysia ala upin ipin.

Nama Pagaruyung itu sendiri merupakan kerajaan Minangkabau yang pernah berkuasa di Sumatera Barat. Sementara Istana Pagaruyung ini merupakan replika istana yang sebelumnya terbakar pada tahun 2007 dan kemudian dibangun kembali. Lokasi istana pagaruyung ini konon katanya merupakan tempat dimana dulunya Istana Silindung Bulan berada, tapi kemudian terbakar, dan kemudian dibangun lagi bangunan yang baru di tempat lain. Rumah gadang memang sangat rawan terhadap kebakaran, sebab konstruksinya yang terbuat dari kayu dan dengan atap yang terbuat dari ijuk. Beberapa warga bilang kalau istana itu terbakar karena tersambar petir.

DSC_4002

Istano Basa Pagaruyung

Di dalam istana ini, pengunjung dapat masuk dan naik hingga lantai 3, tapi agak serem soalnya tangganya agak curam dan goyang. Di dalam istana ini juga terdapat beberapa barang-barang peninggalan sejarah seperti alat masak, alat perang, dan lain-lain, juga berbagai contoh pakaian adat Minangkabau. Pengunjung bisa berfoto dengan menggunakan pakaian adat minangkabau yang sudah disediakan, tapi bayar J

Setelah puas menelusuri setiap ruang dan foto-foto di Istana ini, saya dijemput Pak Sihen di depan pintu gerbang Istana dan kami kembali ke kota Batusangkar. Perjalanan ke Kota Batusangkar ditempuh kira-kira cuma 5 menit, melewati beberapa objek wisata yang telah saya kunjungi sebelumnya. Tidak ada macet, pokoknya lancar jaya. Di Kota Batusangkar Pak Sihen mengajak saya makan siang di sebuah rumah makan kecil milik temannya, yang menyajikan masakan khas padang. Setelah makan siang dan istrahat sebentar, kira-kira pukul setengah 1 siang, Pak Sihen lalu mengantar saya ke terminal, untuk mencari angkutan umum menuju Sawahlunto. “Mobil ke Sawahlunto baru ada setengah jam lagi”, kata penjaga warung di depan terminal. Saya putuskan untuk menunggu mobil di jejeran warung di depan terminal saja, dan saat itu juga saya berpamitan dengan Pak Sihen.

Tidak lama menunggu sambil ngopi di sebuah warung, seorang pemuda datang ke arah saya dan berteriak “Sawahluntoooo”. Ternyata mobilnya sudah siap dan penumpangnya sudah banyak. Cepat-cepat saya mengangkat ransel dan masuk ke mobil. Sawahlunto.. Saya datang 🙂

Hari 2:

Sarapan lontong                             =          Rp   5.000

Tiket masuk Istana Pagaruyung     =          Rp   7.000

Makan Siang + sewa ojek              =          Rp 70.000

Ngopi-ngopi                                   =          Rp 5.000

Batusangkar – Sawahlunto            =          Rp 15.000

Total                                               =          Rp 102.000

Perjalanan Ke Bukittinggi dan Batusangkar

Pesawat lion air mendarat dengan sempurna di Bandara Minangkabau, pagi itu. Dengan senyum sumringah, saya tidak sabar untuk segera turun ke terminal dan mengambil ransel disana. Senang dan deg-degan, campur aduk. Saya baru saja memulai hari pertama traveling untuk 40 hari kedepan. Padahal sering jalan-jalan, tapi setiap tiba di suatu kota ya bawaannya seperti itu, senang sekaligus tegang. Senang karena sudah berhasil sampai disana, dan tegang karena dalam setiap perjalanan akan menghadapi hal-hal tertentu diluar dugaan.

Di Sumatera Barat saya hanya punya waktu 4 hari, dan berencana akan mengunjungi Kota Bukittinggi, Batusangkar, dan Sawahlunto. Kota-kota itu saya pilih setelah melakukan riset dari berbagai blog, grup backpacker, dan sumber-sumber lain di internet. Ya, kota-kota tersebut punya keindahan alam dan budaya yang khas. Itulah yang ingin saya liat.

Penampakan Kota Padang dari udara.

Penampakan Kota Padang dari udara.

Penampilan saya ketika turun dari pesawat saat itu terkesan agak konyol. Dengan cuaca yang cerah dan cukup panas, saya mengenakan setelan pakaian ala musim dingin di eropa, yang mungkin bisa membuat orang berpikir saya sinting. Dengan mengenakan celana panjang jeans, sepatu kets, 2 lapis baju kaos yang juga dilapis dengan jaket hitam yang tebal, balutan syal di leher, dan juga topi kupluk, saya berjalan mantap menuju terminal seperti seorang yang sedang diisolasi dari penyakit menular. Saat itu kondisi badan saya memang sedang tidak fit, dan sedang dalam masa penyembuhan dari demam yang sudah 1 minggu saya alami, entah karena masalah cinta atau tugas studio, yang jelas dua-duanya sudah bikin saya drop.

Kesan pertama melihat arsitektur Bandara Minangkabau, saya merasa seperti sedang masuk ke rumah makan padang. Dan tiba-tiba itu bikin saya lapar, padahal tadinya sudah sarapan di Jakarta. Ini semacam sugesti. Terpaksa tahan lapar, dan berencana makan siang di Bukittinggi saja.

Keluar dari terminal, saya langsung diserbu oleh belasan sopir yang menawarkan tumpangan ke Kota Padang atau Bukittinggi. Ya, ini seperti dugaan saya sebelumnya dari cerita para traveler di blog mereka. Para sopir muncul berebut calon pelanggan yang baru keluar dari pintu kedatangan. Baru saja bahagia menolak tawaran si om kumis, datang lagi si om rambut klimis. Katanya si sopir, ke Kota Padang 40ribu, dan ke Bukittinggi 70ribu. Dari hasil riset yang saya lakukan, cara termurah ke Bukittinggi adalah naik ojek dari Bandara ke fly over dengan jarak sekitar 2,5 kilometer, dan biayanya 10ribu – 15ribu rupiah, lalu naik mobil travel dari sana langsung ke bukittinggi. Jika memilih naik mobil yang ditawarkan oleh sopir-sopir travel di bandara, berangkatnya akan lama karena harus menunggu mobil tersebut penuh dulu baru jalan. Jika tidak, mobilnya akan mencari penumpang di Kota Padang dulu, baru kemudian lanjut ke Bukittinggi, dan itu jelas akan membuang banyak waktu. Jika dari Bandara Minangkabau, letak kota Padang dan Bukittinggi berlawanan arah. Kota Padang mengarah ke timur dengan lama tempuh dari bandara kurang lebih 40 menit, sementara kota Bukittinggi berada di arah barat dengan lama tempuh kurang lebih 2,5 jam dari bandara. Jadi opsinya ada empat, yaitu naik taxi, naik travel gelap, naik ojek, atau jalan kaki. Saya memutuskan untuk bikin opsi ke lima, nebeng mobil orang lain hehe..

Berjalan ke parkiran mobil, saya berjumpa seorang bapak yang sedang menjemput istrinya dan hendak meninggalkan bandara. Padanya saya meminta tumpangan, hanya sampai di flyover saja. Oleh si bapak, saya dipersilahkan duduk di depan, dan istrinya duduk di belakang. Si Bapak cukup antusias menanyakan saya dari mana dan hendak kemana sebenarnya. Setelah bincang-bincang singkat yang menyenangkan, sampailah saya di flyover. Menutup percakapan dengan terima kasih, saya berjalan menuju jejeran warung di dekat flyover, mengikuti arahan dari catatan yang sudah saya buat sebelumnya. Disana, beberapa mobil sempat mampir menawarkan saya tumpangan ke Bukittinggi, tapi belum ada kesepakatan harga, hingga sebuah mobil avanza hitam mampir dan menawarkan harga 20.000 rupiah sampai ke Bukittinggi, dan… oke, deal, saya berangkat. Di mobil itu saya bersama 4 orang penumpang lain, dan semuanya laki-laki, jadi total kami ada 6 orang dalam mobil tersebut (termasuk saya dan sopir). Sopir mobil tersebut mengemudi dengan kecepatan tinggi, dan nyaris kena tilang di Padang Panjang. Sepanjang perjalanan menuju Bukittinggi kita bisa menyaksikan beberapa pemandangan menarik, seperti air terjun, rumah-rumah dengan atap tradisional rumah gadang, dan sawah-sawah yang hijau.

Salah satu pemandangan yang kita jumpai di perjalanan adalah Air Terjun Lembah Anai

Salah satu pemandangan yang kita jumpai di perjalanan adalah Air Terjun Lembah Anai

Setelah 2 jam perjalanan, saya diturunkan di pertigaan jalan yang saya sendiri tidak tau itu di daerah mana. Kata si sopir, saya sudah sampai di Bukittinggi, tinggal naik angkot ke arah yang dia tunjuk. Mengikuti petunjuk si sopir, saya kemudian naik angkot dengan lama tempuh 10 menit, sampai ke dekat Jam Gadang. Biaya angkot Rp 2.500.

Siang itu kurang lebih pukul 13.00 saya tiba di Jam Gadang. Udara disana cukup dingin dan sejuk, maklum kota Bukittinggi memang berada di ketinggian. Suasana di Jam Gadang waktu itu sangat ramai, ya karena menjadi landmark kota Bukittinggi dan juga memang letaknya yang berada di depan pasar dan pertokoan. Hari kedatangan saya juga bertepatan dengan hari libur, sehingga banyak masyarakat lokal dan wisatawan datang membawa serta keluarganya kesana. Pemandangan di kawasan Jam Gadang saat itu tampak semerawut. Banyak PKL berjualan hingga di bawah jam Gadang, banyak sampah, dan parkiran motor yang tidak teratur. Sesekali para PKL membungkus jualannya dan berjalan menjauhi area Jam Gadang ketika ada satpol PP yang datang. Klik disini untuk melihat sekilas videonya.

Me and Jam Gadang hehe

Me and Jam Gadang hehe

5

Kuda dan Jam Gadang 😀

Sambil duduk istirahat, saya asyik foto-foto dan mengunggah foto ke Path (sosial media), yang kemudian disambut dengan komentar dari salah satu teman yang menyarankan untuk makan siang di warung Simpang Raya tepat di seberang Jam Gadang, karena masakannya enak dan pemandangannya bagus. Bergegaslah saya kesana, yang memang dari tadi lapar karena lihat rumah-rumah adat. Soalnya tiap liat atap rumah gadang, langsung kebayang rumah makan padang. Masuk ke rumah makan Simpang Raya, sudah ramai pelanggan disana. Saya naik ke lantai 2, yang ternyata juga sangat ramai pengunjung. Beberapa saat saya menunggu, kemudian pelayan rumah makan itu mempersilahkan saya duduk dekat jendela, dengan pemandangan Jam Gadang yang sangat jelas. Perfect.

Setelah kenyang dengan sajian masakan padang yang enak-enak, saya memikul kembali ransel saya yang beratnya 15 kg berjalan kaki menuju objek wisata Ngarai Sianok. Tapi berhubung pemandangannya bagi saya sangat biasa, saya langsung jalan kaki lagi ke benteng Fort De Kock. Lokasi daya tarik wisata di Kota Bukittinggi ini memang saling berdekatan satu sama lain dan dapat dijangkau dengan berjalan kaki. Lagipula udara disana cukup dingin, sehingga berjalan kaki ke beberapa daya tarik wisata bisa menjadi pilihan yang dapat dipertimbangkan. Tapi jangan malu bertanya ke warga setempat jika kita kebingungan.

Setelah bertanya ke beberapa warga setempat, saya tiba di Benteng Fort De Kock. Masuk ke benteng ini pengunjung perlu membayar tiket senilai Rp 3.000. Ya cukup murah, selain bisa melihat benteng, kita juga sekaligus dapat melihat Kebun Binatang Kinantan, dan contoh Rumah Gadang. Kemudian juga terdapat jembatan Limpapeh yang melintang diatas jalan raya dan menghubungkan sisi benteng Fort De Kock dan sisi Kebun Binatang Kinantan. Kesan saya, tingkat keanekaragaman binatang di dalam kebun binatang bukittinggi sangat sedikit. Kemudian benteng Fort De Kock yang ada disana sangat kecil, bahkan tidak nampak sebagai benteng, melainkan sebagai menara air dan mungkin tempat peristirahatan. Untuk hal ini saya tidak kaget lagi, karena sebelumnya sudah membaca beberapa cerita dan kesan traveler lain. Tapi bagaimanapun, tetap menarik minat untuk dikunjungi. Meskipun hanya sekedar memecah rasa penasaran.

9

Meriam di Benteng Fort De Kock

Jembatan Limpapeh

Jembatan Limpapeh

911

Pemandangan Kota Bukittinggi dari atas Jembatan Limpapeh

Setelah puas berkeliling dan foto-foto, saya duduk sebentar di sebuah taman, sambil browsing daya tarik wisata lain yang ada di Bukittinggi. Karena beberapa daya tarik yang disebutkan kurang menarik bagi saya pribadi, maka sore itu saya membatalkan niat menginap di Bukittinggi, dan langsung mencari cara untuk ke Batusangkar. Bertanya pada beberapa warga lokal, saya diarahkan untuk naik angkot menuju terminal Aur Kuning. Bergegaslah saya naik angkot menuju terminal Aur Kuning sesuai petunjuk warga sekitar. Biayanya Rp 5000, yang kata teman duduk saya dalam angkot “seharusnya cuma Rp 3000”. Tapi tak apalah.

Sampai di terminal Aur Kuning saat itu hujan deras. Dan saya belum turun dari angkot menuggu arahan dari pak sopir. Beberapa menit kemudian pak sopir angkot langsung menunjuk sebuah mobil minibus dan menyuruh saya untuk naik mobil tersebut yang siap berangkat ke Batusangkar. Sekejap saya turun dari angkot dan naik mobil jurusan Batusangkar. Di dalam sana sudah ada beberapa penumpang dengan tujuan yang sama. Pukul 4 mobil itu berangkat menembus hujan, melewati bukit berkelok-kelok menuju Batusangkar. Di dalam mobil saya berkenalan dengan seorang wanita cantik namanya nora. Dia menemani saya bercerita sepanjang perjalanan dan memberitahu tempat-tempat yang harus dikunjungi di Batusangkar.

Bersama Nora yang malu-malu

Bersama Nora yang malu-malu

Sebelum masuk Kota Batusangkar, Nora turun duluan. Tidak lama kemudian semua penumpang turun satu persatu, tinggallah saya berdua dengan Pak Sopir. Saya jadi salah tingkah. Karena saya tidak tau pasti dimana akan turun, Pak Sopir lalu menurunkan saya di sebuah pertigaan jalan, kira-kira saat itu pukul 5 sore. Disana ada tempat pencucuian mobil dan pangkalan ojek.

918

Turun dari mobil langsung foto-foto pemandangan

Waktu lagi asyik foto-foto pemandangan disekitar situ, saya dihampiri seorang pria yang menawarkan diri sebagai ojek. Namanya Pak Sihen. Dia juga sangat antusias ingin mengantarkan saya ke tempat-tempat menarik di Kota Batusangkar. Oke deal, tanpa menunda-nunda, karena hari semakin sore, beliau langsung mengantarkan saya ke sebuah bukit yang cukup tinggi. Namanya puncak Indojalito. Pemandangan disini sangat indah. Dari sini kita bisa memandangi Kota Batusangkar dari atas., bentang alam pegunungan yang diselimuti kabut, dan Kata Pak Sihen, Danau Singkarak juga bisa nampak dari puncak ini pada siang hari.

Puncak Indojalito

Puncak Indojalito

915

Pemdangan dari atas puncak Indojalito

Setelah puas foto-foto diatas bukit, Pak Sihen lalu mengajak saya ke tempat menarik lainnya, tapi karena hari sudah mulai gelap, saya minta diantarkan saja ke kota untuk mencari penginapan paling murah disana. Dalam perjalanan, Pak Sihen berhenti di bawah pohon besar dekat pasar sentral Batusangkar, dan menyuruh saya untuk menengok ke atas. Ternyata di atas sana ada ratusan burung bangau sedang terbang mengitari pohon beringin. Kata Pak Sihen, pemandanganan ini terjadi setiap sore saat menjelang adzan magrib. Klik disini untuk melihat videonya.

Setelah puas memandangi burung dan foto-foto, Pak Sihen lalu mengantarkan saya ke penginapan murah yang letaknya tidak jauh dari situ. Namanya penginapan Yuherma. Tempatnya lumayan strategis, berhadapan dengan rumah makan dan warnet, dekat pasar, dekat warung dan dekat masjid. Saya mengambil kamar di lantai dua, dengan 2 tempat tidur dan sebuah kamar mandi dalam. Harganya Rp 100.000, cukup untuk beristirahat semalam saja. Setelah meletakkan ransel di kamar, saya bertukar nomor HP dengan Pak Sihen, dan janjian ketemu lagi besok pagi jam 10 untuk jalan-jalan ke objek wisata yang lain. Berikut saya share nomor HP Pak Sihen, bagi yang ingin ke Batusangkar dan butuh kendaraan/ojek, hubungi saja beliau: 0853-7552-7246

Rincian Pengeluaran Hari 1:

Travel dari Fly Over Bandara ke Bukittinggi         =          Rp 20.000

Angkot Bukittinggi – Jam Gadang                        =          Rp 2.500

Makan di Rumah Makan Simpang Raya              =          Rp 25.000

Tiket Kebun Binatang                                           =          Rp 3.000

Angkot Jam Gadang ke terminal Aur Kuning       =          Rp 5.000

Mobil ke Batusangkar                                          =          Rp 11.000

Penginapan Yuherma Batusangkar                     =          Rp 100.000

Makan malam                                                      =          Rp 25.000

Total                                                                    =          Rp 191.500

PESONA KAMPUNG TERAPUNG SUKU BAJO PULAU BANGKO

Suku Bajo/Bajau merupakan suku laut, yang menggantungkan hidupnya dari laut dan memiliki kehidupan yang tak pernah jauh dari laut. Banyak orang yang mengatakan bahwa Suku Bajo selalu identik dengan perahu, dan permukiman di atas air laut sebab dahulu mereka hanya tinggal diatas perahu dan berkelana/hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya (seanomedic). Lalu kebiasaan hidup berpindah kemudian tergantikan dengan budaya bermukim menetap dengan membangun rumah diatas laut dangkal.

Sebuah permukiman Suku Bajo yang masih tradisional terdapat di Desa Bangko, Kecamatan Maginti, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Desa ini berada di sebelah barat Pulau Muna, yang secara administratif wilayahnya mencakup daratan dan lautan. Permukiman di Desa Bangko dibangun diatas laut, yang berjarak kurang lebih 600 meter dari mainland (pulau Muna), sehingga nampak seolah-olah sebagai permukiman terapung. Diantara banyaknya permukiman Suku Bajo di Sulawesi Tenggara, Desa Bangko merupakan salah satu desa Suku Bajo yang masih tetap mempertahankan tradisi bermukim diatas laut hingga saat ini, sementara permukiman Suku Bajo lainnya pada umumnya telah tinggal menetap di tepi pantai atau sudah membangun rumah diatas daratan.

Desa Bangko merupakan tempat dimana kita bisa menyaksikan kehidupan masyarakat adat yang hidup secara tradisional. Sajian pemandangan alam disekitar kawasan Desa Bangko yang indah, juga menambah alasan untuk memasukkan Desa Bangko sebagai salah satu destinasi wisata menarik yang perlu anda kunjungi.

Image

Permukiman Desa Bangko

SEJARAH

Nama Desa Bangko diambil dari nama sebuah pulau di dekat permukiman ini dibangun, yaitu Pulau Bangko. Bangko dalam bahasa Bajo sendiri berarti Bakau (Mangrove). Penamaan Pulau tersebut sebagai Pulau Bangko sebab pulau tersebut ditutupi oleh vegetasi mangrove (R.mucronata) dengan presentase 95%. Namun saat ini masyarakat daratan maupun Suku Bajo lainnya telah terbiasa menyebut Desa Bangko ini dengan sebutan Pulau Bangko.

Menurut tokoh masyarakat di Desa Bangko (Haji Baharuddin, 2010) bahwa sejarah Suku Bajo yang ada di Desa Bangko berasal dari Gowa di Propinsi Sulawesi Selatan, yang pada saat itu berlayar dan melakukan perkawinan lintas suku di daerah Tiworo, Kabupaten Muna. Suku Bajo di Desa Bangko disebutkan mulai datang sejak abad ke 16 dan berkembang secara turun temurun hingga saat ini. Tokoh masyarakat Desa Bangko juga mengatakan bahwa Suku Bajo sudah ratusan tahun berada di sekitar Pulau Bangko dan merupakan pusat kampung laut tertua di Kabupaten Muna, Dimana kampung-kampung Bajo lain yang berada di kawasan Pulau Muna seperti Desa Tapi-Tapi dan Komba-Komba, semua dulu berasal dari Desa Bangko.

Jumlah penduduk Desa Bangko pada tahun 2010 adalah kurang lebih 1183 jiwa dan terdiri dari 243 KK. Desa Bangko dihuni oleh Suku Bajo, yang telah mengalami pernikahan antar suku dengan Suku Muna dan Suku Bugis, tetapi masih tetap mempertahankan tatanan tradisional Suku Bajo sebagai suku yang dominan. Mata pencaharian utama penduduk Desa Bangko adalah sebagai nelayan dan sebagian kecil lainnya bekerja diluar sektor perikanan yaitu sebagai buruh, pedagang dan tukang kayu, namun sesekali mereka juga melaut untuk mencari ikan. Selain mencari ikan di laut, mereka juga membudidayakan hasil laut yang ada seperti rumput laut, udang dan teripang yang memiliki harga jual yang tinggi.

suku bajo

Aktivitas masyarakat di Desa Bangko

AKSESBILITAS

Untuk menuju ke Desa Bangko, pertama-tama pengunjung harus bertolak dari Kota Raha (ibu kota Kabupaten Muna), menuju Desa Pajala di Kecamatan Maginti. Perjalanan akan menempuh jarak kurang lebih sekitar 70 kilometer, dengan perkiraan waktu tempuh selama 2,5 jam – 3 jam. Lama waktu tempuh ini dipengaruhi oleh kondisi beberapa ruas jalan yang masih dalam kondisi rusak.

Image

Garis ungu menggambarkan akses dari Kota Raha menuju Desa Pajala melalui jalur darat. Sementara garis kuning menggambarkan akses dari Desa Pajala menuju Desa Bangko dengan perahu motor.

Perjalanan ke Desa Pajala perlu menggunakan kendaraan pribadi atau sewa (rental), sebab belum ada kendaraan umum yang melayani rute ini. Biaya rental mobil sangat bervariasi, tergantung dari jenis mobil dan lama penyewaan. Perkiraan biaya rental untuk mobil avanza perhari adalah Rp 250.000 hingga Rp 350.000, yang bisa berubah tergantung kesepakatan antara penyewa dengan pemilik mobil.

Setelah sampai ke Desa Pajala, maka perjalanan kembali dilanjutkan dengan  menggunakan moda transportasi laut seperti speed boat, perahu motor, dan ketinting, dengan jarak tempuh 7 km dan lama tempuh kurang lebih 20 menit dari pelabuhan Desa Pajala. Lama tempuh ini tentu tergantung dari kecepatan mesin perahu motor, keadaan arus laut dan arah angin. Biaya sewa perahu yang dibebankan untuk mengunjungi Desa Bangko tidak menentu, yang juga tergantung oleh jenis perahu yang digunakan atau banyaknya jumlah penumpang. Untuk berpergian sendiri, penduduk di Desa Pajala biasanya memberikan tarif Rp 50.000 rupiah per sekali jalan, atau Rp 100.000 untuk antar jemput dengan perahu mesin yang memiliki kapasitas penumpang 8-10 orang. Sedangkan jika jumlah penumpang lebih banyak atau hingga mencapai 10 orang, harga yang diberikan bisa jauh lebih murah yaitu hingga Rp 250.000 untuk antar jemput (pergi dan kembali). Harga tersebut juga dapat ditekan tergantung dari komunikasi (nego) antara pengunjung dengan pemilik perahu tersebut.

Pilihan moda transportasi laut dari Desa Pajala menuju Desa Bangko

Selanjutnya, untuk masuk Ke Desa Bangko, para pendatang dapat berlabuh di pintu utama yang terdapat di sisi utara permukiman Desa Bangko. Pelabuhan tersebut terletak tepat di depan rumah tokoh masyarakat Suku Bajo Desa Bangko, Haji Baharuddin. Sedangkan bagi para penduduk setempat atau para kerabat penduduk Desa Bangko biasanya melabuhkan perahu mereka langsung di bawah rumah yang akan dituju.

Image

Pelabuhan Desa Pajala

Image

Jenis perahu motor yang bisa digunakan

Image

Salah satu pintu masuk Desa Bangko

Karena desa ini dibangun diatas laut, setiap rumahnya hanya dihubungkan oleh jembatan kayu titian. Jembatan kayu ini memiliki luas hingga 1,5 meter, yang terbuat dari kayu ulin atau kayu besi. Jembatan titian ini tidak dilengkapi oleh pagar, namun cukup aman untuk dilewati. Sementara untuk untuk masuk ke rumah atau halaman rumah penduduk, beberapa diantaranya hanya menyediakan sebatang papan kayu sepanjang 2 meter hingga lebih sebagai jembatan, yang cukup kuat untuk dipijaki, namun butuh keberanian untuk mampu melewatinya. Pada malam hari, sepanjang jalan ini tidak dilengkapi oleh lampu penerangan. Lampu penerangan hanya dipasang di persimpangan jalan, dan pencahayaan juga mengandalkan cahaya lampu dari rumah-rumah di sekitarnya. Tidak ada kendaraan yang digunakan dalam perumahan ini, baik itu motor maupun sepeda. Mobilitas masyarakat dan pengunjung hanya dengan berjalan kaki.

Sementara itu untuk mengakses pulau-pulau berpasir putih di sekitar Desa Bangko membutuhkan perahu bermotor yang dapat disewa dari masyarakat Desa Bangko sendiri, atau perahu bermotor dari Desa Pajala, dengan harga yang cukup murah, yaitu kurang lebih hanya Rp 150 ribu/hari untuk jumlah penumpang hingga 10 orang (Rp.15.000 per orang).

Image

Suasana dalam perkampungan Desa Bangko

DAYA TARIK

Image

Anak-Anak bermain di sore hari

Semua rumah penduduk di Desa Bangko merupakan rumah tradisional non-permanen, dengan dinding rumah terbuat dari kayu atau daun rumbia dan atap rumah terbuat dari bahan seng atau daun rumbia. Lantai rumah penduduk Suku Bajo seluruhnya terbuat dari bahan papan kayu yang disusun sedemikian rupa sehingga kokoh untuk dipijak. Kayu papan rumah akan diganti jika kondisinya sudah tidak layak lagi untuk digunakan dan membahayakan bagi penghuni rumah. Penduduk Suku Bajo Desa Bangko mendirikan permukiman di atas papan-papan kayu yang ditopang oleh ribuan tiang yang menancap ke dalam dasar laut. Tiang penopang yang tersebut berada pada ketinggian 4 meter (tinggi tiang penopang dari dasar laut hingga ke lantai rumah). Ketinggian air laut pada saat air laut pasang adalah kurang lebih 3,5 meter, sedangkan pada saat air surut ketinggian air laut dibawah permukiman penduduk Desa Bangko beragam. Ketinggian tiang rumah penduduk didasarkan pada kesepakatan bersama, dengan mempertimbangkan nilai-nilai adat, budaya, serta keamanan dan kenyamanan. Jika rumah dibangun dengan ketinggian yang lebih rendah dari 4 meter dirasa sebagai ketinggian yang tidak aman dari air laut, jika terjadi air laut pasang atau terjadi cuaca ekstrim, yang memungkinkan air laut bisa mencapai lantai rumah mereka. Sedangkan jika dibangun lebih tinggi dari 4 meter, maka pada saat air surut penduduk merasa kesulitan untuk beraktifitas, terasa sangat tinggi dan tidak nyaman.

Image

Sunset dari permukiman Desa Bangko

Image

Anak-anak Desa Bangko

20121122_080645

Wisatawan ikut mengajar kelas bahasa inggris di sekolah dasar

Aktifitas masyarakat Desa Bangko sangat unik dan menarik. Dari cara mendirikan rumah, cara bersosialisasi, aktivitas sehari-hari dan cara pemanfaatan ruang yang terbatas di atas laut menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung, terutama bagi yang menaruh ketertarikan pada kebudayaan.  Sementara daya tarik lainnya adalah pantai berpasir putih di beberapa pulau yang berjarak kurang lebih 3 hingga 5 kilometer dari permukiman penduduk Desa Bangko. Beberapa pantai yang dapat dikunjungi adalah:

  1. Bungintaburi, merupakan pulau pasir putih yang unik.  Pulau ini hanya terdiri dari gundukan pasir putih, dan diatasnya berdiri beberapa rumah panggung Suku Bajo, dan tidak ditumbuhi oleh tanaman apapun. Selain pasirnya yang indah, keunikan dari pulau ini adalah gundukan pasir tersebut akan berpindah tempat tergantung dari musim saat itu. Misalnya pada musim angin barat, gundukan pasir akan berpindah ke arah timur, dan musim angin timur gundukan pasir akan berpindah kembali ke arah barat.
  2. Pulau Gala Kecil, adalah pulau yang tidak berpenghuni, dengan kisaran luas 1 km2.  Pulau ini memiliki pasir putih, dan bebatuan alam yang indah, sehingga memiliki nilai untuk dikembangkan sebagai objek wisata.
  3. Pulau Maginti, merupakan salah satu pulau besar yang dihuni oleh masyarakat Suku Bajo dan Muna.  Namun permukiman ini berdiri di atas daratan, bukan di atas laut seperti yang ada di Desa Bangko. Rumah di Pulau Maginti merupakan rumah adat dengan arsitektur tradisional yang khas Muna. Selain daya tarik budaya, pulau ini juga menyajikan keindahan daya tarik alam berupa pasir putih, dan terumbu karang.  Meskipun terumbu karang yang ada di kawasan pulau ini tidak begitu luas, namun cukup menambah keragaman daya tarik alam di sekitar kawasan Desa Bangko.
  4. Ekosistem Mangrove di Pulau Bangko dan pesisir barat daratan Pulau Muna.
Image

Rumah Suku Bajo di Bungintaburi

Image

Salah satu sudut pantai di Pulau Gala Kecil

Image

Arsitektur rumah adat Muna di Pulau Maginti

Selain dengan menikmati keindahan alam dan budaya masyarakat Desa Bangko, aktivitas yang dapat dilakukan selama kunjungan wisata ke kawasan Desa Bangko juga dapat diselingi dengan beberapa aktivitas seperti mengikuti kegiatan masyarakat misalnya menangkap ikan di laut, mencari kepiting di hutan bakau, atau mengikuti warga menelusuri sungai untuk mengambil air bersih.

[Perlu diketahui bahwa untuk keperluan air bersih sehari-hari, masyarakat mengambilnya air bersih di sungai yang berjarak 2 hingga 3 kilometer dari permukiman, atau menampung air hujan dalam sebuah wadah. Air bersih di Desa Bangko juga dikomersilkan oleh beberapa orang, dalam artian bahwa ada beberapa orang warga yang menjual air bersih di Desa sehingga masyarakat tidak perlu lagi jauh-jauh ke sungai. Meskipun cara tersebut cukup membantu, namun penduduk setempat menginginkan aksesbilitas yang lebih baik terhadap air bersih]

Sementara itu untuk hal kuliner, karena permukiman berada di atas laut, dan masyarakatnya mayoritas adalah nelayan, maka makanan yang dapat dikonsumsi oleh pengunjung di Desa Bangko tentu saja adalah seafood, seperti kepiting, ikan, lobster, kerang, cumi-cumi, dan sebagainya. Masyarakat mengolah masakan tersebut dengan racikan bumbu yang sederhana. Beberapanya olahan makanannya bahkan tidak dimasak, namun hanya dicuci dengan air panas, dibumbui dengan garam dan cabai, lalu diberi perasan jeruk nipis. Makanan ini sekilas mirip dengan Sashimi dari Jepang.

Beberapa makanan yang biasa disajikan oleh masyarakat juga merupakan kombinasi masakan daerah Muna, seperti: lapa-lapa, kagule, kapinda, kambewe, dan lain sebaginya.

Image

Sajian makanan saat menyambut kedatangan penulis di Desa Bangko

Image

Masakan khas Muna yang juga terdapat di Desa Bangko

AKOMODASI

Hingga saat ini belum ada penginapan komersil yang ada di permukiman Suku Bajo di Desa Bangko. Para pengunjung yang datang dan ingin menginap di permukiman ini bisa tinggal di rumah penduduk setempat, dengan fasilitas yang sederhana, seperti tempat tidur kasur atau tikar, bantal/guling, dan kamar mandi/toilet. Menikmati malam di Desa ini sangat menenangkan. Pengunjung akan sesekali dapat merasakan bagaimana tiang rumah yang ditumpangi bergoyang karena hempasan ombak. Tapi semuanya akan aman dan baik-baik saja.

Kamar mandi/toilet di permukiman Desa Bangko ini juga sangat sederhana. Untuk mandi, tersedia drum yang berisi air yang diambil dari sungai terdekat, atau dari air hujan. Karena susahnya memperoleh air bersih, selama berada di permukiman ini pengunjung diharapkan untuk menghemat penggunaan air bersih seminimal mungkin.

Beberapa rumah yang biasa digunakan untuk menginap oleh pengunjung antara lain adalah rumah Kepala Desa Bangko bapak Hayal Panu, dan rumah Tokoh Adat Desa Bangko bapak Alm Haji Baharuddin. Sementara biaya untuk penginapan dikisarkan antara Rp 60.000 hingga Rp 150.000 permalam, atau bisa saja gratis tergantung dari kesepakatan yang telah dibicarakan sebelumnya.

LISTRIK

Listrik di Desa ini dihasilkan oleh pembangkit listrik dari generator/genset, yang menggunakan bahan bakar bensin. Namun tidak semua rumah di Desa ini memiliki pembangkit listrik tersebut, dan tidak semua rumah teraliri oleh listrik. Genset di Desa Bangko hanya dimiliki oleh beberapa orang tertentu dan umumnya hanya beroperasi saat hari mulai beranjak gelap, yaitu pada sekitar pukul 18.00 hingga pukul 22.00 malam atau saat seluruh aktivitas penghuni rumah telah berakhir. Sementara pada siang hari, masyarakat menyalakan listrik hanya untuk kebutuhan yang sangat penting, atau jika sedang menyelenggarakan hajatan adat, pernikahan, dan kebutuhan penting lainnya.

TELEKOMUNIKASI

Desa Bangko hanya mampu dijangkau oleh layanan Telkomsel, namun dengan kualitas jaringan yang sangat rendah. Seringkali signal hanya bisa diperoleh dari daerah ujung jembatan/jalan titian di sebelah utara permukiman. Namun masyarakat di Desa Bangko ini cukup kreatif dengan membuat teknologi sederhana untuk mendapatkan signal yang kuat, yaitu dengan membuat tiang antenna penangkap signal. Beberapa rumah memiliki tiang antena penangkap signal yang tinggi, yang salah satu bagian ujung kabel antena tersebut ditempelkan atau diikatkan dengan karet ke bagian belakang telepon seluler, sehingga signal yang dihasilkan akan sangat kuat.

Image

Di ujung jembatan ini signal telkomsel bisa lebih baik.

Beragam daya tarik yang dimiliki oleh kawasan permukiman adat Suku Bajo di Desa Bangko menunjukkan bahwa desa ini memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sebuah objek wisata. Dalam prosesnya masyarakat setempat perlu dilibatkan secara aktif, baik sejak proses perencanaan hingga saat kegiatan wisata tersebut telah berlangsung. Dengan aplikasi konsep community based tourism, masyarakat diharapkan menjadi pelaku utama dan diberdayakan secara mandiri melalui sektor pariwisata, baik secara langsung maupun tidak langsung. Konsep ini memungkinkan masyarakat mengelola sendiri segala aktivitas dan penyediaan fasilitas pariwisata, sehingga keuntungan ekonomi yang diperoleh dapat dinikmati oleh masyarakat. Model pengentasan kemiskinan melalui pariwisata (pro poor tourism) juga memungkinkan masyarakat memperoleh keuntungan bersih dalam ekonomi dan pembangunan infrastruktur, tanpa merubah kebudayaan dan kearifan lokal, serta tidak mengganggu akses masyarakat pada ruang-ruang tertentu, dalam hal ini tidak ada privatisasi pada ruang publik untuk kepentingan pribadi. Pengembangan pariwisata di desa ini diharapkan dapat meningkatkan upaya konservasi budaya dan lingkungan, karena dengan menjaga budaya dan lingkungan tersebut berarti masyarakat menjaga eksistensi daya tarik wisatanya. Sasaran yang dapat tercapai dalam pengembangan pariwisata di Desa Bangko adalah masyarakat setempat tidak lagi semata-mata hanya menggantungkan hidup dari sektor perikanan, namun juga dapat berpartisipasi dalam penyediaan transportasi, usaha penginapan, makan dan minum, dan segala usaha lain yang mendukung kegiatan pariwisata, agar taraf hidup masyarakat dapat meningkat, sehingga masyarakat setempat dapat mengakses ke segala kebutuhan hidup yang lebih layak.

YANG HARUS DIPERHATIKAN

  • Selama mengunjungi Desa Bangko, pengunjung diminta untuk bersikap sopan, tidak membuat keributan, atau hal-hal lain yang mengganggu kenyamanan masyarakat lokal. Pengunjung diharapkan tidak membuat sentakan di lantai rumah, sebab getaran sentakan tersebut dapat dirasakan oleh seisi rumah.
  • Bersedia untuk mematuhi larangan atau pantangan berkaitan dengan hal-hal yang tidak boleh dilakukan, atau tempat-tempat yang tidak boleh didatangi.
  • Jika ingin mandi di laut, disarankan untuk di kawasan pantai dan tidak mandi di sekitar permukiman, mengingat sistem sanitasi di Desa ini masih buruk.
  • Disarankan untuk membawa air mineral dari daratan, sebab di akses terhadap air minum di Desa Bangko masih sulit.
  • Tidak membuang sampah sembarangan, atau meninggalkan sampah di Desa Bangko.
  • Menghemat penggunaan air bersih.

CONTACT

Berikut adalah kontak yang bisa dihubungi jika anda akan mengunjungi Desa Bangko

Kades Pulau Bangko:

Nama  : Bapak Hayal Panu

No HP : 081241726636

Kades Pajala:

Nama  : Bapak Ambo Ibrahim

No HP : 085394449997

*Mengingat sulitnya jaringan komunikasi di kedua desa ini, kontak bisa dilakukan dengan melalui SMS

Image

Penulis bersama tokoh Masyarakat Desa Bangko Almarhum Haji Baharuddin (peci putih), kepala desa dan warga masyarakat Desa Bangko, tahun 2010.

Image

Penulis bersama warga masyarakat Desa Bangko, beserta kepala desa dan keluarga, tahun 2013.