Setengah Jam Mengayuh Sepeda Sambil Baca Doa

Banlung, kota yang tenang, dengan udara pagi yang segar. Pagi di kota ini diliputi oleh kabut dan aroma rumput basah. Beda dengan di Siem Reap dan Phnom Penh yang hangat, disini lebih adem udaranya. Kesan pertama berada di Banlung adalah serasa berada di Gunung Kidul. Tenang, Sepi, Adem, Ayem, Tentrem.

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, Banlung merupakan Ibukota Provinsi Ratanakiri. Terletak di sebelah utara negara kamboja, yang berbatasan langsung dengan Vietnam dan Laos. Saya menyambangi kota ini untuk “melihat-lihat”, sebelum menyeberang ke Kota Pleiku di Vietnam.

area–map–of–Cambodia

Letak Banlung di Ujung Kanan Atas Peta Kamboja

Di Banlung saya menginap di hostel yang sangat murah seharga 2 USD permalam, dengan fasilitas seadanya. Tidak banyak tamu di hostel ini, hanya ada dua wanita backpacker dari prancis, seorang backpacker pria dari brasil, dan seorang pria tampan dari Indonesia. Eh itu saya sendiri. Kami hanya berempat disini, dengan komposisi dua pria dan dua wanita. Dan kami akan menjadi teman jalan selama berada di Banlung.

Teman-teman baru saya ini sangat terbuka dan bersahabat, jadi saya juga tidak canggung bersama mereka. Sementara itu, penghuni lain di penginapan ini adalah dua orang ibu-ibu, seorang anak usia SD, dan seorang pemuda yang selalu jagain kasir. Mereka adalah pemilik dari hostel ini.

xDSC_5813

Backpacker Pad, tempat saya menginap di Ban Lung

Cuaca di Banlung selalu nampak mendung. Ya, kata traveler prancis, cuaca seperti ini sudah berlangsung sekitar empat hari. Rupanya traveler prancis ini sudah menghabiskan waktu seminggu di penginapan ini. Kata penjaga kasir, kadang bule prancis itu tidur di dalam penginapan, dan kadang mereka membuat tenda di depan penginapan dan tidur di tenda jika mereka ingin irit. Aneh kan bule tidur di tenda di dalam halaman hostel, tapi mandinya di hostel, hanya untuk mengirit 2 USD sehari. Bule kere ^_^

xDSC_5810

Backpacker Pad

Saya menghabiskan waktu selama tiga hari di kota Banlung. Sebenarnya sih cukup sehari atau dua hari saja, karena tidak banyak daya tarik wisatanya, tapi karena keenakan dengan suasana kota ini, akhirnya saya tambah sampai tiga hari. Setiap pagi di kota ini saya awali dengan jalan kaki melihat-lihat keadaan disekitar. Kota Banlung memang masih kecil, kendaraan tidak begitu ramai, dan kiri-kanan masih banyak lahan kosong. Tapi sepertinya kota ini sedang berkembang, dengan nampak beberapa konstruksi bangunan baru dan juga ruko yang baru dibuka. Dan kota ini juga punya airport lho, tapi penerbangannya hanya dengan pesawat charter yang jadwalnya tidak menentu.

xDSC_5825

Suasana pagi yang sepi di Banlung

xDSC_5824

Pemandangan lazim di Kamboja, motor punya gandengan di belakang dan mengangkut banyak penumpang.

Tempat pertama yang saya datangi di Banlung adalah Central Market alias pasar sentral, yang jaraknya kurang lebih 2 km dari penginapan. Saya datang ke pasar ini setiap pagi selama tiga hari berturut-turut, untuk sekedar jalan-jalan, melihat-lihat dan jajan. Pasarnya cukup besar, terdiri dari dua lantai. Pedagang di pasar ini berjualan dengan rapi, dan pembelinya ramai sekali. Sepertinya pasar di kota kecil ini jauh lebih bagus penataannya daripada pasar di kampung saya sendiri. Disini saya melihat banyak sekali barang yang diperjual belikan, dan kelihatannya juga unik-unik. Saya sempatkan beli satu buah durian montong di blok penjual buah untuk di bawa pulang dan dimakan di penginapan. Mumpung disini harganya murah.

xDSC_5845

Senyum si mba bikin duriannya tambah manis.. xixixi..

xDSC_5829

Memasuki kawasan pasar sentral

xDSC_5830

Blok pedagang sayur segar

xDSC_5864

Penjual belalang goreng

xDSC_5850

Makanan khas kamboja yaitu Pong tia koon, sebuah telur ayam rebus yang sudah berisi embrio ayam di dalamnya

xDSC_5867

Penjual Boneka.. Eh penjual babi

Di pasar ini saya membeli beberapa ekor ikan bakar dan sebungkus nasi untuk saya bawa pulang ke hostel dan makan disana. Sebenarnya banyak penjual ayam bakar dan ayam goreng di pasar ini, tapi setelah saya lihat cara mereka mematikan ayam tersebut, saya jadi ilfil. Mereka mematikan ayam dengan cara memutar lehernya sampai mati. Jadi saya makan ikan saja, ditambah sayur-sayuran. Saya juga sering membawa pulang buah-buahan, terutama pisang dan nanas, soalnya harganya murah-murah.

xDSC_5858

Penjual makanan siap saji: menu ayam, ikan, dan sayuran

 

Objek kedua yang saya kunjungi selama di Banlung adalah Ka Tieng Waterfalls. Ka Tieng merupakan salah satu dari tiga air terjun yang menjadi daya tarik wisata Banlung. Lokasinya ada di tengah hutan belantara dan jarang dikunjungi oleh wisatawan. Saat musim hujan, air terjunnya akan berwarna keruh dan debit airnya tinggi. Sedangkan saat musim kemarau, airnya kelihatan lebih jernih dan debit airnya tidak terlalu tinggi. Saya mengunjungi air terjun ini bersama ketiga traveler, setelah didiskusikan bersama dulu sebelumnya. Untuk kesana kami harus menyewa sepeda seharga 1 USD di hostel, karena jaraknya lumayan jauh. Kami bisa mencapai lokasi air terjun setelah mengayuh sepeda kurang lebih satu setengah jam. Jalan yang kami lalui awalnya adalah jalan poros antar kota yang beraspal, dan agak menanjak. Terus beberapa kilometer kemudian kami berbelok masuk ke jalan yang tidak beraspal alias hanya tanah saja, mengikuti pertunjuk jalan menuju air terjun. Di jalan ini kelihatannya makin sepi dari perumahan warga, dan jarak antar rumah agak berjauhan. Lama mengayuh dijalan ini, kami belok lagi ke sebuah jalan yang agak kecil, dimana tidak ada rumah satupun disana, hanya ada kebun-kebun milik warga. Kondisi jalan ini rusak berat, licin dan berlumpur, sampai beberapa kali kedua traveler prancis tergelincir dan jatuh.

x20140612_133550

Bersepeda melewati jalan tanah menuju Ka Tieng Waterfalls

Saat sampai di gerbang lokasi air terjun, kami memarkirkan sepeda dan mengunci sepeda kami di pos. Oleh penjaga pos kami diminta membayar tiket masuk sebesar 2.000 riel kamboja. Sepertinya tidak ada pengunjung lain di tempat ini selain kami berempat. Kami mampir sebentar di sebuah gubuk penjual souvenir sambil istirahat disana, lumayan capek perjalanannya.

x20140612_141346

Penjual souvenir

Lokasi Ka Tieng Waterfalls nya terletak kurang lebih 200 meter dari pos masuk. Jadi kami harus berjalan kaki di hutan, mengikuti sumber suara air terjun. Tiba di bibir sungainya, saya kaget, ternyata kita berada diatas tebing air terjunnya. Jadi bukan melihat pemandangan air terjun dari bawah. Airnya juga keruh, karena hujan di daerah hulu sungai. Kami menyeberangi sungai keruh yang sangat licin, dan nongkrong di tepi tebing air terjunnya, karena pemandangannya lebih bagus dari situ, dan ada batu-batuan yang bersih untuk duduk.

x20140612_142613

Kami berempat

x20140612_142818

Menyeberang sungai yang keruh dan sangat licin, butuh perjuangan

x20140612_142810

Duduk diatas, sementara pemandangannya air terjunnya ada di bawah 😀

x20140612_144721

Nongkrong asyik

Kami nongkrong di tepi air terjun kira-kira selama setengah jam, sampai tiba-tiba air sungai di tempat yang kami lewati tadi berubah semakin deras. Awalnya kami lihat biasa saja dan tambah kelihatan seru. Eh lama kelamaan kok jadi tambah deras lagi. Kami jadi panik, karena baru sadar kalau kami akan makin sulit menyebrangi sungai untuk pulang. Bahaya kan kalau kami menyeberang sungai deras, tergilincir terus terbawa arus dan jatuh di titik air terjunnya. Tapi pelan-pelan kami melangkahkan kaki di sungai sambil berpegangan di batu-batu yang bisa kami raih, dan akhirnya sampai juga di seberang. Arus sungai ini tiba-tiba deras karena sepertinya sedang hujan di daerah hulu sungainya. Langit memang agak mendung saat itu. Makanya tidak lama kemudian setelah menyeberang sungai, turun hujan deras juga di air terjun ini.

x20140612_163550

Hujan deras, kelihatan sungainya meluap

Saat itu hujannya turun deras sekali, dan sungainya meluap, sampai tempat yang kami pakai nongkrong yang tadinya kering dan agak tinggi pun akhirnya tertutup aliran sungai. Suara air terjunnya juga semakin keras terdengar dari jauh. Kami berempat lari untuk berlindung dan berhenti di sebuah pondok kayu. Kira-kira selama satu jam kami berlindung disini sampai hujannya reda. Tetap dibawa happy 🙂

x20140612_160258

Menanti hujan reda

Pas hujan reda, kami langsung jalan menuju pos pintu masuk, mengambil sepeda dan pulang kembali menuju hostel. Saat pulang kami melewati medan jalan yang semakin berat, semakin licin dan berlumpur karena habis hujan deras. Kami juga mampir beberapa kali di rumah warga untuk berteduh karena di perjalanan tiba-tiba hujan. Alhamdulillah kami bisa tiba kembali di hostel tepat saat hari sudah mulai gelap, kira-kira jam enam sore.

Camera 360

Narsis dulu 🙂

 

Objek ketiga yang saya kunjungi di Banlung adalah sebuah danau bernama Yeak Loam, atau dalam pengucapannya disebut Yak Lom. Danau ini terbentuk karena adanya erupsi vulkanik pada ribuan tahun yang lalu, sehingga membentuk sebuah kawah besar yang lalu berproses menjadi sebuah danau. Nah danau ini merupakan salah satu daya tarik wisata yang perlu dikunjungi saat mampir ke Banlung. Yeak loam terletak di sebelah selatan Kota Banlung, yang berjarak sekitar 5 kilometer dari pusat kota.

Saya mengunjungi danau ini berdua dengan seorang traveler brasil. Sementara dua orang traveler prancis tidak mau ikut karena mereka tidak ingin membuang uang lagi untuk biaya sepeda. Padahal harga sewa sepeda di hostel kan cuma 1 USD. Haduh..

Bersama traveler brasil, saya mengayuh sepeda siang hari sekitar jam 01.00. Langit saat itu berawan, jadi cukup nyaman untuk mengayuh sepeda tanpa terik sinar matahari. Kami melewati jalan berbukit yang naik turun, dan beberapa kali kami turun dan memapah sepeda kami karena tanjakannya lumayan tinggi. Jalan yang kami lewati saat itu beraspal, dengan kondisi yang cukup bagus. Beda jauh dengan jalan menuju Ka Tieng Waterfalls sebelumnya.

Di kiri kanan kami sepanjang perjalanan menunju Yeak Loam masih terdapat banyak rumah yang jaraknya berdekat-dekatan, tapi ketika belok masuk ke jalan poros menuju danau Yeak Loam, sudah sangat jarang menjumpai rumah lagi, yang ada hanyalah hutan belantara. Kami mengayuh sepeda selama kurang lebih 40 menit dari hostel, baru sampai di pintu masuk Yeak Loam.

x20140613_154256

Istirahat sebentar, jalannya menanjak terus soalnya.

x20140613_155624

Kami sampai di Yeak Loam.

Untuk bisa masuk ke dalam area danau, kami harus membeli tiket masuk seharga 6.000 Riel Kamboja per orang, dan ditambah 1.000 Riel lagi untuk biaya parkir per satu buah sepeda. Untuk sepeda tidak hanya kami parkirkan begitu saja, tapi kami rantai di pohon dengan gembok yang diberikan dari hostel, biar lebih aman. Kami kemudian berpisah disini, si bule brasil jalan mengitari danau, sementara saya duduk-duduk di tepi danau sambil foto-foto. Pemandangan di tepi danau ini indah sekali. Udaranya juga sejuk dan air danaunya dingin. Danau Yeak Loam airnya sangat jernih. Saking jernihnya, kalau kita berdiri di tepi danau, seolah kita bisa melihat jauh kedalam danaunya.

xc20140613_16283x

Pemandangan danau Yeak Loam, sayangnya sedang mendung

Danau Yeak loam memiliki kedalaman kurang lebih 50 meter, dengan diameter danau adalah kurang lebih 800 meter. Bentuk danaunya melingkar, jadi kalau liat dari udara atau dari map, bentuknya memang hampir seperti lingkaran. Danau Yeak Loam dikelilingi oleh tracking path, atau jalur setapak yang panjangnya kurang lebih 2500 meter. Kalau saya perhatikan, cuma bule saja yang mau tracking mengelilingi danau ini. Sementara yang lain asyik duduk-duduk manja di tepi danau, termasuk saya sendiri hehe..

Di tepian danau terdapat beberapa pondok kayu yang disewakan, yang banyak ditempati oleh orang lokal yang lagi asyik pacaran sambil ngemil dan minum di dalamnya. Sementara di sudut lain saat itu pengunjung banyak yang lompat ke danau dan berenang, kebetulan ada juga yang menyewakan pelampung disana. Saya sendiri mau berenang, tapi takut siapa tau danau ini ada buayanya 😀

x20140613_163204

Banyak disediakan life vest buat yang mau berenang

Lagi asyik liatin orang mandi (orang berenang maksudku), dari jauh saya mendengar ada suara musik gong. Karena penasaran, saya langsung mencari dari mana arah suaranya. Ternyata setelah ketemu, suara gongnya berasal dari acara adat masyarakat di tepi danau. Nampak saat itu beberapa warga menggunakan pakaian adat, yaitu tenunan dengan motif unik yang khas. Mereka membentuk lingkaran dua baris, dimana baris pertama (di bagian dalam) adalah laki-laki dengan memegang alat musik gong berbagai ukuran. Sementara di baris kedua (bagian luar) adalah perempuan, yang saling bergandengan tangan. Mereka semua bergerak melingkar, dan ditengahnya ada seorang bapak yang sedang duduk sambil bermain alat musik gesek. Sementara bapak yang satunya lagi sedang asyik menyanyi dengan mic mengikuti irama musik gong. Acara adat ini bukanlah acara rutin yang terjadwal dilakukan di danau Yeak Loam, jadi belum tentu turis lain bisa menjumpai apa yang saya lihat ini.

x20140613_165325

Para laki-laki memegang gong aneka ukuran

x20140613_171804

Seorang laki-laki duduk sambil memainkan alat musik gesek

x20140613_171705

Perempuan dengan pakaian adatnya

x20140613_171634

Saya yang sedang asyik selfie2

x20140613_172305

Bersuka cita sambil minum miras tradisional

x20140613_173107

Seorang bapak dengan latar belakang rumah adat yaitu rumah pengantin

Lagi asyik foto-fotoin masyarakat yang sedang bersuka cita, tiba-tiba turun hujan yang cukup deras dan angin kencang, sehingga acara adat tersebut bubar. Semua masyarakat dan pengunjung Yeak Loam lari berhamburan mencari tempat berteduh.

x20140613_181802

Hujan deras, dan para pengunjung sudah pada pulang naik mobil

Kira-kira sejam sudah saya berteduh, tapi belum juga ada tanda-tanda hujan akan reda. Sementara banyak pengunjung yang sudah pulang dengan mobil. Teman jalan saya si bule brasil juga sudah pulang duluan sebelum hujan, karena lagi tidak enak badan katanya. Karena banyak yang sudah pulang, area danau ini jadi sepi. Tidak banyak lagi orang disana.

Saya masih tetap menunggu hujan reda, meskipun langit saat itu sudah mulai gelap. Tidak berapa lama, saya putuskan untuk lari ke warung, meminta dua buah kantung kresek kecil, yang kemudian saya gunakan untuk membungkus HP dan dompet. Dan setelah itu saya beranikan diri langsung menerobos hujan, mengayuh sepeda sampai ke hostel. Karena sepertinya hujannya akan awet terus sampai malam.

Ada dua perasaan saya saat itu yang campur aduk; Pertama, perasaan saya senang. Karena sudah lama tidak mandi hujan. Maklum terakhir mandi hujan waktu masih SMP, itupun habis mandi hujan langsung dimarahin ortu. Jadi sekarang rasanya lebih bebas. Kedua, saya merasa ketakutan. Karena hujan turun dengan sangat deras, langit sudah gelap, dan saya harus mengayuh sepeda sendirian selama kurang lebih 40 menit dijalan yang sepi, yang jarang sekali ada rumah warga disekitarnya, dan tanpa penerangan sedikitpun. Tapi ini harus saya lalui, karena sudah terlanjur basah juga. Akhirnya saya mengayuh sepeda dari danau Yeak Loam sampai ke hostel, dan di sepanjang perjalanan saya membaca semua doa yang saya hafal karena ketakutan. Saat itu saya benar-benar sangat ketakutan karena sendirian lewat di hutan belantara saat gelap dan hujan deras. Dan Alhamdulillah tidak terasa saya bisa tiba di hostel dalam waktu sekitar 30 menit, lebih cepat 10 menit dari yang saya kira. Mungkin karena panik 😄

x20140613_181809
Menanti hujan derasnya reda sampai hari mulai gelap

 

Selain keluar masuk pasar sentral, mengunjungi Ka Tieng Waterfalls, dan Danau Yeak Loam, sisa waktu luang saya selama di Banlung saya habiskan untuk jalan-jalan mengitari kota dengan sepeda, jajan, dan nongkrong di hostel. Pernah saat sedang mengitari kota, saya sempatkan mampir jajan es campur. Rasanya enak, isinya ada nangka, kolang-kaling, kacang merah, kacang hijau, jagung, tape ketan, sagu mutiara dan cincau. Terus diatasnya dikasih es serut dan susu kental manis. Mantap. Harganya 1,5 USD. Saya sekalian beliin seporsi tape ketan untuk Mr Smey, karena kami ada janjian mau ketemuan dan makan bareng.

xDSC_5877

Jajan es campur

Menghabiskan waktu di hostel juga lumayan asyik. Setiap waktu luang, saya banyak ngobrol dengan ketiga travelmate saya, sambil main bilyard atau sambil ngemil buah-buahan hasil belanja di pasar. Kami juga saling share rute perjalanan kami. Awalnya, dari Banlung saya berencana untuk menyebrang ke Pleiku (Vietnam) lalu mulai menyusuri jalur darat sampai ke Hanoi. Tapi teman-teman saya ini menyarankan saya untuk lebih baik nyebrang ke 4000 islands dulu di Laos karena katanya keren, terus habis itu baru ke Vietnam. Okey, setelah ditimbang-timbang, masukan mereka saya terima.

xFullscreen_11_3_17__00_07

Saya jadi ganti arah, harusnya ke Pleiku (Vietnam), tapi malah ke 4000 islands (laos)

x20140613_132205

Nongkrong

Malam terakhir saya di Banlung, saya sempatkan membayar semua tagihan dari hostel, meliputi uang sewa kamar, sewa sepeda, dan makan minum selama tiga hari, yaitu sebesar 16 USD. Lewat hostel ini saya juga sekalian membeli tiket untuk perjalanan dari Banlung ke Nakasang – Laos (dekat 4000 islands) seharga 17 USD. Lumayan murah menurutku, tapi sepertinya bakalan sesuai dengan kualitasnya yang sederhana. Jadi penasaran seperti apa nanti mobil yang saya gunakan ke laos 😄

Oh ya, setiap malam selama saya di Banlung selalu turun hujan. Biasanya mulai jam 9 malam hujan turun sampai pagi, kadang disertai juga dengan angin yang agak kencang. Suasananya jadi agak berisik saat hujan, karena atap hostel kami pakai seng. Jadi saat hujan kami ngobrol sambil teriak-teriak. Hal yang saya tidak sukai dari hostel ini adalah ada tokeknya. Di kamar saya ada tokek besar sekali menempel di dinding diatas pintu. Tapi sudah diatasi sama yang punya hostel. Dari sini saya baru tau kalau bahasa kambojanya Tokek adalah Tokai 😄

Dan terakhir, ini informasi yang cukup penting. Di Banlung setiap malam ketika sudah jam 11 malam listrik dipadamkan Tidak cuma di hostel tempat saya menginap saja, tapi di seluruh kota juga mengalaminya. Dan lampunya akan menyala lagi sekitar pukul 5 pagi nanti. Jadi kami sebagai penghuni sudah diberitahu oleh si yang punya hostel untuk bersiap-siap menghadapi kenyataan ini 😊

Advertisements

Perjalanan 11 Jam, Nebeng di Mobil Orang

Hari ini adalah hari terakhir saya di Phnom Penh, dan saya akan melanjutkan perjalanan ke sebuah daerah bagian utara negara ini, yaitu Kota Banlung, di Provinsi Ratanakiri. Banlung ini masih sangat asing bagiku, juga bagi banyak traveler lainnya. Saya tidak pernah mendengar cerita dan berita tentang kota ini sebelumnya. Informasi tentang pengalaman traveler ke kota ini sangat minim saya peroleh. Saya juga bertanya pada grup Backpacker Dunia, tapi jawaban yang saya peroleh kurang memuaskan. Perjalanan saya ke Banlung hanya bermodalkan potongan informasi dari internet yang sangat minim yang saya kumpulkan dan saya rangkum sendiri untuk menjadi petunjuk perjalanan. Saya mengunjungi kota Banlung untuk mencicil perjalanan saya menyeberang ke Pleiku (Vietnam). Kota Banlung cukup dekat dengan perbatasan dengan negara Laos, dan Vietnam, sehingga saya ingin mampir sejenak dan berpetualang di kota yang belum populer ini.

area–map–of–Cambodia

Letak Banlung di Ujung Kanan Atas Peta Kamboja

Sumber Gambar: https://www.roughguides.com/maps/asia/cambodia/

Pagi itu ransel saya sudah rapi “ter-packing” dan siap di gendong lagi untuk melanjutkan perjalanan. Saya sarapan dulu di restoran hostel yang terletak di rooftop, video call-an sama Aqsa (teman kuliah), sambil menunggu informasi dari Mr Smey yang akan datang menjemputku. Mr Smey adalah seorang pria yang saya temui dalam bus rute Siem Reap ke Phnom Penh. Dia menawarkan saya untuk berangkat bareng ke Banlung dengan mobilnya, karena dia aslinya tinggal di Banlung. Yah, kesan saya orang ini tidak mencurigakan sedikit pun. Saya yakin dia orang yang baik.

Jam 11 pagi saya meninggalkan hostel, dan naik tuk-tuk (seharga 1 USD) menuju Wat Phnom yang letaknya sekitar 1 km dari hostel. Kali ini saya sengaja naik tuk-tuk, karena sedang pakai ransel berat dan udaranya sudah panas. Wat Phnom menjadi titik pertemuan saya dengan Mr Smey, karena tempat ini cukup terkenal. Sekitar setengah jam menunggu, akhirnya Mr Smey datang, dan saya langsung diajak menaikkan ransel ke mobil miliknya.

x20140610_124536

Naik tuk-tuk ke Wat Phnom

xDSC_5716

Liatin orang main game sambil menunggu Mr Smey datang

Saya agak terkejut saat itu, karena rupanya dia datang dengan mobil double cabin, yang di dalamnya ada penumpang 6 orang alias mobilnya sudah penuh. Mau duduk dimana saya? Saya pikir salah satu dari mereka akan turun di Wat Phnom, jadi saya bisa masuk. Eh ternyata semuanya mau ke Banlung juga. Karena itu, saya diminta naik di cabin belakang, bersama dengan beberapa barang bawaan mereka. Sangat-sangat bikin saya terkejut, karena saya sebelumnya membayangkan penumpangnya tidak banyak, sehingga saya bisa duduk di dalam. It was really out of my expectation. Naik di bak mobil terbuka di siang hari dengan sinar matahari yang sangat terik, tanpa pelindung dan perjalanan akan memakan waktu sampai 11 jam. Tau kan sejak di Siem Reap dan tiga di hari di Phnom Penh saya mengeluhkan udara yang gerah dan sinar matahari yang sangat menyengat, akhirnya hari ini saya harus merasakannya. Rasanya seperti saya sedang dapat hukuman. Tapi tak apalah, saya berusaha untuk tetap menikmatinya, karena bagaimanapun ini bagian dari perjalanan yang tak terlupakan. Ya kan? *Berusaha menenangkan diri*

Oh ya posisi duduk para penumpang dalam mobil saat itu adalah: Di depan ada Mr Smey dan adik laki-lakinya yang bergantian menyetir mobil. Di belakang ada istri, anak perempuan, ipar perempuan, dan ipar laki-laki Mr Smey. Di bak belakang ada saya, berdua dengan ransel, bertiga dengan air mata.. hiks..hiks…

Perjalanan dimulai, saya berusaha berteduh pada bayangan apapun yang ada, sambil mencari benda-benda yang bisa melindungi anggota tubuhku dari sengatan matahari yang sangat terik. Berusaha tetap tenang dan sabar. Orang sabar kuburannya pake AC.

xDSC_5767

Meninggalkan Kota Phnom Penh

Dalam perjalanan ke Banlung, mobil yang saya tumpangi berhenti beberapa kali. Pertama mampir isi bahan bakar di SPBU yang masih berada di wilayah kota Phnom Penh. Kesempatan itu saya gunakan untuk turun dari mobil dan mencari benda-benda apa saja yang bisa menutup badanku, apakah kardus atau apa gitu. Tapi nihil. Setelah isi bahan bakar, mobil kemudian jalan lagi.

xDSC_5771

Mampir di SPBU

Siangnya sekitar sekitar pukul 13.30, mobilnya mampir lagi, kali ini di sebuah tempat semacam rest area. Rupanya perhentian kali ini untuk makan siang. Saya diajak makan bareng Mr Smey dan keluarganya, dan dibayarin. Saya pesan seporsi nasi putih, sejenis ikan lais dan ikan asin. Begitu makanannya datang, porsi nasinya lumayan banyak. Tapi memang lho kalau di Kamboja kayaknya tiap pesan makan, nasinya selalu diberi banyak.

x20140610_141400

Makan siang sama keluarga baru 🙂

Setelah makan siang, kami lanjutkan lagi perjalanan. Ditengah perjalanan, salah satu penumpang yaitu adik ipar Mr Smey mabuk, dan muntah karena tidak tahan duduk di dalam, sehingga dia dipindahkan ke belakang. Nah disini saya tidak sendirian lagi. Sudah ditemani adik ipar Mr Smey. Dia bisa berbahasa inggris juga, jadi saya punya teman ngobrol di belakang. Terus langit saat itu berangsur berubah dari cerah menjadi berawan. Sudah tidak begitu panas lagi.

xDSC_5790

Perjalanan 🙂

Camera 360

Akhirnya ada teman di belakang 😀

Perjalanan ke Banlung memang sangat lama, sampai 11 jam perjalanan. Kami melewati perkampungan, hutan, dan jalan berdebu. Lebih dari separuh perjalanan adalah areal yang sangat sepi dari aktivitas dan rumah penduduk. Kira-kira sudah pukul 3 siang, kami berhenti lagi disebuah perkampungan, tepat di sebuah lapak yang menjual buah-buahan. Disini keluarga Mr Smey mampir beli buah-buahan dan cemilan. Lalu istri Mr Smey minta duduk di cabin belakang juga. Jadi lah kami dibelakang duduk bertiga, sambil makan buah.

x20140610_175957

Mampir jajan dulu

xDSC_5794

Istri Mr Smey Yang Baik Hati

Beberapa lama kemudian, Mr Smey mengajak saya duduk di dalam mobil saja karena lowong. Alhamdulillah.. Ini tawaran yang tidak akan saya tolak, soalnya banyak debu di belakang dan kulit ini sudah gosong terbakar matahari. Mobil kami menepi, dan saya pindah masuk ke dalam. Kali ini saya sudah di dalam ruangan ber AC yang sejuk, serasa berpindah dari afrika ke eropa. Di dalam mobil, saya ditawarkan makanan nasi bambu, dan otak-otak ikan. Nasi bambu ini terbuat dari beras ketan yang dimasak di dalam bambu kecil. Cara memakannya adalah dengan mengupas bambunya terlebih dahulu sampai nasinya bisa kita ambil. Begitu seterusnya sampai nasinya habis dan bambunya dibuang. Sementara otak-otak, dibungkus oleh plastik dan diberi sedikit cabe dan daun kemangi. Rasanya agak pahit. Selain itu saya juga diberi buah cempedak dan rambutan.

x20140610_162505

Saya sudah duduk di dalam 🙂

x20140610_180854

Nasi Ketan Bambu

x20140610_181842

Otak Otak Ikan

Sore hari sekitar pukul 17.00 langit kelihatan mendung, dan posisi kami masih berada di kawasan hutan. Tiba-tiba turun hujan deras. Kedua penumpang di belakang sudah pasrah terlanjur basah kuyup. Beruntung tas saya di belakang sebelumnya sudah saya bungkus dengan kresek besar jadi tidak ikut basah. Mr Smey menepikan mobilnya ke sebuah warung terdekat untuk membeli sebuah terpal, untuk melindungi kedua keluarganya di belakang dan barang-barang bawaan mereka dari hujan. Terbayang kan kalau saya tadi tetap di belakang, sudah kepanasan, penuh debu, terus kehujanan, apes lah.

Karena hujannya awet, saya jadi mengantuk dan ketiduran selama perjalanan. Tau-tau pas bangun, kami sudah sampai di kota Banlung, sekitar pukul 22.00 malam. Saya minta di drop di sebuah hostel murah meriah, namanya Backpacker Pad. Dan saat itu juga saya berpisah dengan Mr Smey dan keluarganya. Disana saya mengambil tipe kamar dorm, seharga 2 USD permalam. Kamar dorm ini terdiri dari 4 buah tempat tidur yang berjejer berdampingan, dilengkapi dengan 2 buah kipas angin dan satu kamar mandi dalam. Dan rupanya cuma saya penghuni di kamar ini. Ok, fine. Penginapan ini memiliki tiga jenis kamar, yaitu kamar tipe twin bed, double bed, dan dorm, yang semuanya murah. Sebenarnya sebagai pengusaha jasa wisata, Mr Smey juga punya penginapan di Banlung, namanya kalau tidak salah The Tree Top. Tapi harganya lumayan lah, sesuai kualitasnya. Dan karena saya ingin yang murah meriah saja, jadi saya lebih memilih menginap di Backpacker Pad.

xDSC_5809

Kamarku selama di Banlung 🙂

Capek sekali selama diperjalanan, dan kulitku merah karena terbakar matahari. Mr Smey terlalu baik pada saya, sudah memberikan tumpangan gratis meskipun awalnya kejam saya disuruh duduk di bak cabin belakang. Dia juga sudah baik mentraktir saya makan, dan menyuguhkan jajanan selama di perjalanan. Seandainya jika saya naik kendaraan umum, saya harus membayar kurang lebih 30 USD untuk perjalanan Phnom Penh – Banlung, mahal kan? Selanjutnya saya terus berkontak dengan Mr Smey, mengajaknya bertemu besok di waktu luangnya. Insya Allah suatu saat nanti kalau ke Kamboja lagi, saya harus ketemu bapak ini 🙂

 

Kejutan Di Pagi Buta

Selain mengunjungi Royal Palace dan dua situs Dark Tourism (The Killing Field dan Tuol Sleng Genocide Museum), selama di Phnom Penh saya juga mengunjungi beberapa objek yang mungkin tidak menarik buat wisatawan, tapi buat saya sendiri itu menarik, seperti Phsar Kandal, Phsar Thmey dan Wat Phom. Sisanya saya nongkrong di tepi jalan atau tepi sungai, mengamati orang mondar-mandir, kulineran, dan jepret sana sini. Saya mulai keluar dari penginapan saat pagi hari sejak pukul 06.00 lalu pulang kembali ke hostel sekitar pukul 10.00 pagi. Terus baru keluar lagi sekitar pukul 16.00 sore sampai malam. Sengaja saya beraktifitas di jam tersebut karena diatas pukul 10.00 pagi sampai pukul setengah empat sore udara di kota Phnom Penh sangat gerah dan sinar mataharinya sangat menyengat. Jadi saya habiskan waktu di hostel saja.

xDSC_5449

Pemandangan dari rooftop hostelku

Kota Phnom Penh menurutku tidak banyak memiliki daya tarik wisata yang keren. Itu juga yang semakin membuat saya banyak menghabiskan sisa waktu untuk ngadem di hostel saja, selain karena alasan udara diluar yang panas. Di hostel saya bisa internetan, nongkrong di rooftop, main bilyard sama penghuni lainnya atau selonjoran di kasur.

x20140608_180832

Main bilyard di rooftop

Di pagi kedua saya di phnom Penh, saya diberi pengalaman unik. Saat itu saya bangun lebih pagi sekitar pukul 04.00 Bukan karena sengaja ingin bangun terlalu pagi, tapi saya terbangun oleh suara-suara aneh dari dalam kamar. Pelan-pelan saya berusaha membuka mata dan menyadarkan diri, sambil menoleh ke sumber suara itu. Rupanya, sepasang traveler bule (pria dan wanita) sedang berhubungan sex, tepat dikasur sebelahku. Waduh.. Gila ya. Saya menenangkan pikiran, berbalik badan full ke arah mereka dan tetap pura-pura tidur. Lumayan lah dapat tontonan gratis tepat di depan mata hehe.. Sejam kemudian saya bangun dan turun dari ranjang, sambil pura-pura cuek saja dan tidak tau apa yang terjadi. Agak canggung juga, saya turun dari ranjang menuju toilet, berwudhu, sholat di rooftop dan bersiap untuk keluar hunting foto pagi-pagi. Masih pagi-pagi sudah dapat Wow Experience haha..

xDSC_5617

Pemandangan yang biasa di Phnom Penh di pagi hari. Kasian 😦

Kali ini saya berjalan ke arah yang berlawanan dengan rute jalan saya kemarin. Saya masih ingin melihat-lihat kehidupan masyarakat kota Phnom Penh disudut jalan yang lain. Saya berjalan kaki ke arah Phsar Thmey, atau Central Market. Awalnya saya merencanakan ingin berjalan kaki sampai ke Olympic stadium. Tapi karena jaraknya kejauhan, saya hanya bisa sampai ke Phsar Thmey saja. Phsar Thmey ini dibangun pada tahun 1935, dengan bentuk kubah besar dengan empat lengan berbentuk huruf X. Jadi dari atas udara, bangunan ini terlihat seperti huruf X besar dengan bulatan ditengahnya. Phsar Thmey memiliki gaya arsitektur Art Deco. Bentuknya yang klasik membuatnya terlihat unik diantara bangunan-bangunan di sekitarnya.

xDSC_5654

Phsar Thmey dengan gaya arsitektur artdeco

xDSC_5648

Kubah pasar

Di pasar ini saya sibuk melihat-lihat aktivitas masyarakat dan jepret sana sini. Mereka berdagang berbagai jenis barang, dari pakaian, barang elktronik, aneka jenis makanan, sayur mayur, perhiasan, dll. Beberapa produk Indonesia saya lihat ikut terpampang di antara barang dagangan pasar ini, seperti Indomie, Djarum Super, Gudang Garam, Balsem Geliga, dan lain sebagainya.

xDSC_5647

Produk indonesia yang dijual di Phsar Thmey

xDSC_5599

Pedagang di depan pasar

xDSC_5606

Parkir 🙂

xDSC_5626

Aktivitas pasar bagian luar

Situasi di pasar ini rasanya tidak jauh beda seperti di Indonesia, jadi saya merasa seperti sedang belanja di pasar Mandonga Kendari. Sambil jalan dan foto-foto, saya juga mencoba beberapa jajanan khas yang dijual mas-mas di pinggir jalan 😀

xDSC_5625

Jajanan 🙂

Sekitar satu setengah jam berkeliling dan mengamati aktivitas pasar, saya kemudian berjalan pulang kembali ke hostel. Disini saya merasa ada yang unik dengan kota ini. Saya perhatikan kok jumlah apotiknya banyak sekali ya. Setiap satu blok jalan, saya menjumpai apotik. Dan jumlahnya tidak hanya satu, melainkan bisa sampai 5 apotik sekaligus yang letaknya berdekat-dekatan. Contohnya yang saya jepret ini, didalam frame ada 4 apotik, tapi sebenarnya ada 6 apotik berdekatan semua.

xDSC_5586

Beberapa apotik yang berdampingan

xDSC_5583

Di depan beberapa rumah atau toko, sering dibuatkan altar untuk ritual ibadah tertentu. Jadi serasa mirip Bali.

xDSC_5666

Saya juga mampir memperbaiki sandal kulit saya yang hampir putus di sebuah lapak kecil. Hanya menunggu 10 menit dan membayar 1 USD, sandal saya bagus lagi.

xDSC_5613

Angkutan Umum 😀

Waktu menunjukan sudah lewat pukul 10 pagi, dan udara sudah mulai panas. Saya putuskan untuk kembali ke hostel. Saya akui udara Phnom Penh semakin siang semakin benar-benar panas sampai mata rasanya kering, mirip dengan udara di Siem Reap. Di kampung saya di Raha (Sulawesi Tenggara) saat musim panas, udaranya juga panas, tapi di Kamboja ini rasanya lebih panas lagi. Serasa berada di dekat api unggun. Jadi siang-siang saya hanya nongkrong ngadem di hostel. Kalau ada penjual es lewat langsung saya panggil. Kan panas-panas enaknya makan/minum yang dingin-dingin.

xDSC_5680

Jajan Es Tape Ketan. Baru tau kalau orang kamboja sebut tape dengan tapai

x20140608_113533

Jajan Es Roti 🙂

Sekitar pukul setengah lima sore, udara kota Phnom Penh sudah tidak panas lagi. Saya keluar dari hostel untuk jalan-jalan, foto-foto dan kulineran, ditemani seorang bule dari inggris. Kali ini saya mencoba mie goreng dari gerobak kayu seorang mbak-mbak. Rasanya lumayan enak, dan yang penting halal. Oh ya, di kamboja setiap makan kita akan diberikan sumpit, bukan sendok.

x20140608_182114

Jajan Mie Goreng

Sementara itu di hari ketiga saya di Phnom Penh, saya awali lagi dengan jalan-jalan ke pasar basah. Bukan psar Thmey yang kemarin saya datangi, tapi namanya Psar Kandal (Kandal Market), yang lokasinya lebih dekat dari hostel tempat saya menginap. Pasarnya mirip dengan kebanyakan pasar di Indonesia. Tidak teratur, kadang becek, banyak lalat, ramai pengunjung, dan pedagangnya sibuk merayu pengunjung yang lewat untuk mampir ke lapaknya. Berbagai jenis barang dagangan diperjualbelikan disana. Dari hewan ternak, ikan, alat pertukangan, beras, buah-buahan, sayur-sayuran, dan lain sebagainya. Sesekali beberapa biksu lewat disana, dan dihampiri oleh warga maupun pedagang untuk diberikan sedekah, lalu warga dan biksu tersebut berdoa bersama.

xDSC_5681

Suasana Pasar

xDSC_5686

Jual Siput Raksasa 😀

xDSC_5660

Berdoa bersama

Saya begitu menikmati keadaan pasar ini. Aktivitas jual beli dan kondisi pasar tak luput dari jepretan kameraku. Saya juga mencicipi beberapa jualan di Phsar Kandal ini, terutama Durian. Durian yang dijual dipasar ini adalah durian montong. Tau kan kalau durian montong itu besar-besar dan dagingnya tebal. Rasanya manis, murah pula. Makan satu buah saja sudah kenyang.

DSC_5616

Durian 🙂

Puas jalan-jalan di pasar, saya langsung pulang ke penginapan. Seperti biasa, sudah lewat jam 10 pagi, udaranya mulai gerah. Penginapan adalah tempat paling nyaman, karena bisa tiduran santai di ruang ber-ac. Saya menghabiskan waktu siang ini di dalam kamar, sambil berselancar di dunia maya, membaca-baca literatur tentang destinasi saya selanjutnya, atau sekedar bermain-main dengan sosial media.

Sorenya, udara gerah sudah mulai berkurang. Matahari saat itu tertutup awan mendung, jadi saya rasa saat yang cukup baik untuk berjalan-jalan keluar lagi. Saya menyusuri jalan dengan berjalan kaki menuju Wat Phnom.

Wat Phnom adalah bangunan religi tertua dan tertinggi di Phnom Penh. Bangunan ini didirikan tahun 1373 dengan tinggi 27 meter, di dekat tepi sungai Tonle Sap. Tempat ibadah ini terletak ditengah jalan melingkar (seperti bundaran HI). Menurut legendanya, dahulu ada seorang wanita bernama Penh menemukan empat patung perunggu Budhha berukuran kecil di dekat sungai. Penh lalu menempatkan patung tersebut diatas bukit, kemudian dibangunkan kuil kecil untuk menyimpan benda bersejarah tersebut. Nah dari sinilah cerita asal usul nama Phnom Penh. Phnom berarti bukit, dan Penh adalah nama wanita tadi. Jadi diartikan sebagai Bukit Penh.

xDSC_5714

Tangga naik ke Wat Phnom, yang dijaga oleh patung lion dan ular naga berkepala tujuh.

Tempat ini banyak dikunjungi untuk beribadah dan berwisata. Karena menjadi objek wisata, disini kita akan menjumpai pengemis, penjual souvenir, dan penjual minuman. Ada juga beberapa anak muda yang menawarkan burung merpati dalam sangkar kepada pengunjung Wat Phnom untuk dibeli dan diterbangkan/dilepaskan, sebagai simbol kebaikan mengikuti ajaran buddha. Tapi rupanya beberapa lama kemudian setelah pembeli itu berlalu, penjual burung itu memanggil kembali burungnya yang sudah terlatih untuk masuk lagi ke dalam sangkar. Jadi semacam penipuan.

xDSC_5698

Pengunjung sedang beribadah di dalam Wat Phnom

xDSC_5705

Ibadah

Sekitar sejam berada di Wat Phnom, saya kemudian pulang, menyusuri ruas jalan yang berbeda dengan jalan pergi yang tadi, sambil melihat-lihat kondisi lingkungan yang saya lewati. Saat itu tiba-tiba hujan deras, saya mampir untuk berteduh di sebuah restoran kamboja, sekalian makan malam lah menurutku. Restoran ini menawarkan berbagai macam menu masakan tradisional khas kamboja. Saya memesan seporsi amok, dan segelas mango shake.

Amok adalah makanan khas kamboja, yaitu ikan kari yang dimasak dengan dibungkus daun pisang. Bahan dasarnya adalah ikan putih dengan campuran santan, bawang, dan sayur. Setidaknya itulah yang saya lihat dan terasa di lidahku. Amok disajikan dengan seporsi nasi putih. Ummm.. Kuah karinya sangat kental dan rasanya enak. Makanan ini rupanya juga disajikan di negara tetangga seperti Laos dan Thailand tapi dengan nama yang beda, dan juga beberapa kreasi bahan yang beda. Sejak di Siem Reap saya ingin sekali makan Amok, tapi tidak jadi karena bahannya pakai daging babi. Di rumah makan ini, pelayannya berkata bahwa semua masakan mereka bebas dari bahan babi, dan mereka menyajikan resep amok yang sebenarnya, yaitu berbahan ikan putih.

xDSC_5723

Amok, disajikan dengan seporsi nasi putih

Saat itu saya hanya perlu membayar sebesar 6 USD untuk amok dan mango shake. Harganya menurutku standar lah, untuk makanan seenak ini dan direstoran yang cukup mewah. Pelayanan di restoran ini juga sangat ramah. Saya meminta seorang waiters untuk duduk menemani saya ngobrol sambil menunggu hujan reda.

xDSC_5728

Minta difotoin dulu 🙂

Kira-kira sejam kemudian hujan mulai reda, meskipun masih ada rintik-rintik sedikit. Saya meninggalkan restoran dan menyusuri jalan pulang, melewati tepian Tonle Sap River menuju hostel. Nampak dari kejauhan cahaya petir yang membentuk pola seperti akar di langit. Kira-kira setiap satu menit ada dua sampai tiga kali cahaya petir yang muncul. Saya berhenti sebentar dan berusaha mengabadikan cahaya petir tersebut lewat kamera yang saya bawa. Hasilnya cukup memuaskan.

xDSC_5750

Bisa motoin petir itu sesuatu 🙂

xDSC_5758

Banjir saat perjalanan pulang, terpaksa harus memutar ke jalan lain

Itulah pengalaman singkat saya selama berada di Phnom Penh. Sebenarnya masih banyak yang saya alami tapi tidak mungkin bisa saya ceritakan semuanya di blog ini. Bisa panjang ceritanya nanti hehe.. Saya sih berharap, semoga ada informasi yang bermanfaat dari tulisan saya ini bagi yang membacanya. Ok.

Ada Yang Horror Di Phnom Penh

Alhamdulillah, akhirnya bisa menapakkan kaki di kota Phnom Penh, Ibukota Kamboja. Saya menghabiskan waktu selama 4 hari di kota ini. Waktu yang cukup lama sebenarnya, apalagi saya tidak banyak mengunjungi objek daya tarik wisata yang ada. Saya hanya mengunjungi beberapa daya tarik wisata saja, sisanya saya habiskan waktu dengan jalan-jalan menelusuri trotoar sambil menjepret berbagai aktivitas masyarakat, hingga membawa saya keluar masuk pasar. Lalu, waktu siang hari di Phnom Penh saya banyak habiskan di penginapan saja karena udara di kota ini sama gerahnya dengan di Siem Reap. Yah siap-siap saja kalau traveling di bulan Juni ke Kamboja, udaranya gerah dan sinar mataharinya sangat menyengat.

Hari pertama di Phnom Penh saya awali dengan hunting foto aktivitas masyarakat di pagi hari dengan rute perjalanan dari hostel tempat saya menginap sampai ke Royal Palace. Saya berjalan kaki menelusuri pedestrian, dimana saya melihat banyak anak yang tidur di emperan ruko atau bar. Ada orang tua, ada anak-anak. Ada yang tidur sendirian, dan ada yang tidur dalam satu kawanan. Agak sedih melihatnya. Mereka tidur sangat nyenyak, dan berpelukan karena kedinginan. Mereka pasti tidur larut malam ketika bar tersebut sudah tutup, dan mungkin saja itu baru sekitar 3 jam yang lalu.

DSC_5295

Anak-anak tidur di emperan bar

Saya berjalan menelusuri pedestrian, mengikuti arah dari peta yang saya bawa, kira-kira sudah berjarak sekitar 500 meter dari penginapan, sampai saya bertemu dengan sungai Tonle Sap. Di pinggir sungai Tonle Sap sudah ramai orang berolahraga. Area tepian sungai Tonle Sap ini didesain cukup baik, dengan pohon-pohon yang tertata rapi, dan taman bunga yang cantik. Pada beberapa sudut taman juga terdapat alat-alat kebugaran (fitness), dan di bagian tepi sungai dipajang bendera berbagai negara yang berkibar berjejeran di tiang-tiang yang tinggi.

DSC_5298

Warga berolahraga di tepian sungai Tonle Sap

DSC_5323

Ramai bendera berbagai negara

Saya teruskan menelusuri jalan di tepi sungai ini hingga membawa saya ke depan sebuah kompleks bangunan megah dan indah yang bercat emas. Itulah yang disebut gedung Royal Palace, atau Istana Raja Kamboja. Dalam bahasa khmer (bahasa resmi di kamboja), istana ini disebut dengan Preah Barum Reachea Veang Nei Preah Reacheanachak Kampuchea. Rumit ya bacanya. Istana ini dibangun pada tahun 1860an yang digunakan sebagai tempat kediaman resmi Raja Kamboja dan keluarganya sampai saat ini. Kompleks istana ini terdiri dari beberapa bangunan yang indah dan dikelilingi oleh pagar yang tinggi. Sementara di pintu istana ini nampak beberapa tentara yang sedang berjaga-jaga.

DSC_5329

Abang Becak dan Royal Palace Yang Megah

DSC_5355

Biksu yang sedang melintas di depan gerbang istana yang dijaga oleh tentara

Pengunjung hanya diperbolehkan mengunjungi Silver Pagoda yaitu salah satu bangunan dalam kompleks istana ini. Namun tidak diperkenankan untuk memotret di dalam pagoda tersebut. Pengunjung juga diminta untuk berpakaian yang sopan, mengenakan celana dibawah lutut dan baju berlengan. Bagi yang datang dengan bercelana pendek atau mengenakan singlet tidak perlu khawatir, karena disana juga ada tempat penyewaan sarung dan penjual baju, jadi pengunjung berbusana mini bisa tetap masuk.

Namun saat itu saya tidak masuk ke dalam kompleks istana ini karena kelaparan belum sarapan pagi. Jadi saya hanya foto-foto diluar saja sebentar, lalu lanjut jalan lagi mencari sarapan pagi. Di depan pagar istana banyak warga yang olahraga, foto-foto dan juga banyak melintas para biksu muda yang menuju ke sekolah mereka yang tidak jauh dari kompleks istana.

DSC_5359

Pria tampan dari Muna 😀

DSC_5376

Para Biksu Berjalan Menuju Sekolah di Dekat Grand Palace

Siangnya sekitar pukul 12.00, saya mengambil tour ke The Killing Field dan Toul Sleng Genocide Museum. Saya ikut tour ini karena diajak oleh para traveler yang sebelumnya saya temui di rooftop hostel. Mereka mengajak saya ikut patungan untuk menekan biaya tour. Kami berangkat berenam, dengan masing-masing hanya membayar 4USD saja. Tentu dengan senang hati tawaran ini saya terima karena murah hehe.. Dan mulailah kami jalan. Kami berenam naik sebuah tuk-tuk yang agak luas, melewati jalan panjang berdebu dan berlubang. Maklum, sedang diadakan perbaikan jalan di rute yang kami lewati. Tapi tetap asyik lah. Jarak dari hostel sampai ke Killing Fields lumayan jauh, sampai kami menempuh perjalanan selama kurang lebih 45 menit. Ya lokasi Killing Fields berada di pinggiran kota Phnom Penh.

Camera 360

Teman Perjalanan

DSC_5460

Kami melewati jalan berlubang dan berdebu

The Killing Fields adalah salah satu tempat pembantaian masal oleh Rezim Komunis Khmer Rouge (Khmer Merah) terhadap masyarakat Kamboja pada tahun 1975 hingga tahun 1979. Khmer Rouge sendiri adalah sayap milliter Partai Komunis Kamboja yang saat itu berhasil menggulingkan kekuasaan pemimpin sebelumnya. Nah saat rezim komunis ini berkuasa, mereka mulai melakukan pembunuhan masal. Killing Fields ini lah yang menjadi salah satu pusat pembantaian rezim komunis tersebut. Setidaknya lebih dari satu juta jiwa yang menjadi korban kekejaman Komunis Khmer Rouge di Kamboja. Mereka menangkap dan mengeksekusi siapa saja yang diduga memiliki hubungan dengan pemerintah, maupun professional dan golongan intelektual. Jadi, jika seseorang menjadi lawan dari Komunis Khmer Rouge, maka orang tersebut dibunuh dan generasinya serta semua yang terkait dengannya akan dibunuh juga, meskipun itu anak kecil, karena untuk menghindari adanya upaya balas dendam di kemudian hari. Nah sisa-sisa kekejaman pembantaian rezim Khmer Rouge tersebut kini menjadi objek wisata “Dark Tourism” dan dikunjungi oleh banyak wisatawan dari berbagai belahan negara. Objek wisata dark tourism ini sebenarnya bukanlah hal yang baru, karena di negara kita juga ada, seperti monumen lubang buaya, monumen pembantaian 40ribu jiwa oleh Westerling di Makassar, Lawang Sewu Semarang, dan masih banyak lagi.

Untuk masuk ke Killing Fields wisatawan internasional dikenakan biaya sebesar 6USD, dan sebelum masuk kita akan diminta untuk menggunakan audio dengan memakai headset, supaya kita bisa paham dengan deskripsi setiap tempat yang akan kita lihat didalam sana. Audio ini tersedia dalam berbagai bahasa, seperti bahasa Inggris, Jepang, Thailand, Spanyol, Korea, dsb. Sayangnya tidak ada bahasa Indonesia, kalau bahasa Malaysia ada.

DSC_5504

Loket Tiket Masuk Killing Fields

Masuk ke dalam The Killing Field kita akan melihat sebuah menara stupa yang tinggi, dengan pintu kaca di keempat sisinya. Di dalam menara ini terdapat lemari kaca yang beirisi ratusan tengkorak manusia, ada yang tengkorak utuh, dan sebagian besarnya pecah karena hantaman benda tajam pada saat tragedi terjadi. Dari sini sudah mulai terasa ngeri.

DSC_5465

Tampak menara dengan stupa yang khas berarsitektur kamboja

DSC_5498

Lemari kaca berisi ratusan tengkorak manusia

DSC_5496

Gambar tengkorak yang terkena hantaman sabit.

Lalu ada tempat dimana saat itu menjadi titik pemberhentian truck yang membawa para tahanan dari penjara Tuol Sleng dan tempat-tempat lainnya untuk di eksekusi mati di Killing Field. Truck akan tiba dua atau tiga kali dalam sebulan atau setiap tiga minggu sekali, yang membawa 20 hingga 30 tahanan.

DSC_5466

Tempat pemberhentian truck.

Lalu ada pohon yang digunakan sebagai tempat untuk mengeksekusi anak-anak, beberapa kuburan masal yang diberi pagar dan atap jerami, museum dan ruang audio visual yang menampilkan tayangan video pendek tentang pembantaian rezim Khmer Rouge, dan lain sebagainya. Dalam area Killing Fields ini kita juga diperlihatkan pada jenis-jenis alat yang digunakan untuk menyiksa dan membunuh para tawanan, baik itu parang, sabit, linggis, maupun sebuah pohon sejenis lontar yang batangnya berduri tajam yang digunakan untuk menyembelih tawanan. Juga kita diperdengarkan pada suara sirine, yang menceritakan bahwa dulu ketika sirine itu berbunyi, itu artinya pembantaian sedang terjadi. Sehingga sirine diputar dengan keras agar suara teriakan para tawanan yang kesakitan tidak terdengar. Suara sirine ini terdengar sampai belasan kilometer di daerah permukiman warga, dan banyak membuat warga merasa trauma.

Melangkahkan kaki di area Killing Field kita harus mengikuti jalur yang sudah dibuat, sebab kadang masih ada banyak tengkorkan manusia dan kain pakaian yang berserakan dan muncul di permukaan tanah. Kita tidak ingin kan melangkah diatas tengkorak?

DSC_5474

Serpihan tengkorak di tanah

Selama berada di Killing Fields kita seolah-olah dibawa untuk membayangkan kejadian pada masa pembantaian terjadi secara nyata, dan itu membuat saya tidak berhenti merinding. Sangat menyedihkan sebenarnya, hingga tidak ada wisatawan yang tersenyum selama berkunjung kesini.

DSC_5488

Killing Tree, pohon tempat membantai anak-anak

DSC_5471

Salah satu tempat pemakaman masal 450 korban pembantaian

DSC_5469

Pohon yang dahan berdurinya digunakan untuk mengeksekusi tahanan

DSC_5467

Wisatawan fokus menyimak penjelasan dari audio.

Kami berada di Killing Fields selama kurang lebih satu setengah jam. Dan kami harus segera kembali ke tuk-tuk karena masih ada satu lagi objek yang akan kami kunjungi. Saat kembali ke tuk-tuk raut, wajah kami semua tampak murung dan shock, tidak seceria saat kami berangkat tadi.

Kami lanjut lagi ke objek tujuan selanjutnya, yaitu Tuol Sleng Genocide Museum yang ternyata berada di pusat kota, tidak terlalu jauh dari hostel tempat kami menginap. Tuol Sleng merupakan tempat yang sangat terkait dengan Killing Fields tadi, yaitu tempat dimana tawanan dipenjara dan sebagian dibawa ke Killing Fields untuk dieksekui. Jadi berada disini nuansanya masih sama dengan berada di Killing Fields. Hanya bedanya, kalau killing fields letaknya di ruang terbuka, sementara Tuol Sleng berada di gedung. Entah kenapa saya merasa Tuol Sleng nuansanya lebih angker, apa karena tempatnya di gedung atau karena hari sudah sore dan tidak banyak pengunjung lagi disana.

DSC_5576

Gerbang Masuk Tuol Sleng Genocide Museum

DSC_5570

Gedung yang awalnya berfungsi sebagai sekolah

Tuol Sleng atau S-21 awalnya adalah sebuah gedung sekolah seperti pada umumnya, yang terdiri dari lima gedung yang menghadap ke sebuah halaman/lapangan upacara bendera. Setelah rezim komunis Khmer Rouge mengambil alih pemerintahan Kamboja, gedung ini lalu dirubah fungsinya dari sebuah sekolah, menjadi penjara rahasia dengan nama Security Prison 21 atau S-21. Tempat ini dijadikan sebagai pusat penyiksaan, interogasi dan eksekusi secara rahasia oleh Khmer Rouge dibawah pimpinan Pol Pot. Karena beralih fungsi sebagai penjara, maka desainnya pun dibuat menyesuaikan selayaknya sebuah penjara. Diantaranya yaitu memasang kawat duri elektrik mengelilingi gedung, ruangan penjara yang dibagi lagi kedalam sekat-sekat penjara kecil, disediakan ruang interogasi dan penyiksaan, serta semua jendela dipasang jeruji besi dan kawat duri. Sekitar kurang lebih 17.000 orang pernah masuk ke dalam S-21, dan hanya tujuh orang diantaranya yang berhasil selamat.

DSC_5510

Peraturan Bagi Para Tahanan

Selain ditampilkan ruangan penyiksaan, interogasi dan penjara, di museum ini juga terpajang banyak sekali dokumentasi foto-foto yang memperlihatkan keadaan para tahanan selama berada di S-21. Sementara di halaman depan S-21 terdapat makam sebagian  korban pembantaian.

DSC_5506

Salah satu ruangan dimana tahanan berada di tempat tidur sementara kaki tangannya dirantai.

DSC_5558

Gedung dipagari oleh kawat elektrik berduri supaya tahanan tidak melarikan diri

DSC_5548

Di beberapa ruangan museum banyak dipajang foto foto korban dan foto saat sedang dilakukan penyiksaan. Korbannya tidak hanya berasal dari kamboja tetapi juga berasal dari beberapa negara. Konon salah satunya berasal dari Indonesia

DSC_5559

Tembok ruangan kelas yang dibobol dan dibuat pintu untuk memudahkan pengawasan

Selama berada disini rasanya mengerikan sekali. Pikiran saya gedung ini pasti ada hantunya hehehe.. Tapi kalau saya bandingkan seremnya dengan Lawang Sewu di Semarang, terutama penjara bawah tanahnya, Tuol Sleng Museum ini masih kalah lah 🙂

DSC_5561

Sebuah ruangan yang didalamnya dibuatkan lagi sel-sel kecil untuk para tahanan

20140608_150056

Lukisan keadaan saat para tahanan diangkut ke dalam mobil

20140608_150126

Kuburan masal. Ada yang dikubur saat benar-benar sudah mati dan ada yang dikubur hidup-hidup

Di bagian pintu keluar, kita bisa menjumpai seorang bapak tua yang menjual buku tentang pengalamannya sebagai salah satu dari tujuh orang tahanan yang berhasil selamat.

DSC_5572

Pengunjung sedang berpose bersama salah satu dari 7 orang yang berhasil selamat dari pembantaian

Sekian perjalanan saya hari ini, hari pertama di Phnom Penh. Dari jalan pagi menyusuri sungai Tonle Sap, foto-foto di Grand Palace, dan mengujungi dua situs Dark Tourism Phnom Penh yang luar biasa. Saya sih menyarankan, kalau yang tidak kuat sama hal-hal bernuansa tragedi, kematian, kengerian, dan horror, mungkin kedua situs Dark Tourism diatas (The Killing Fields dan Tuol Sleng Museum) dihindari saja, takut kenapa-kenapa hehehe..

 

Dari Siem Reap Menuju Phnom Penh

Hari ini saya tidak punya rencana untuk jalan-jalan, karena saya akan meninggalkan kota ini untuk melakukan perjalanan jauh ke Phnom Penh, ibukota negara Kamboja.

1DSC_5198

Pagi di Siem Reap

Sekitar pukul 10 pagi saya buru-buru membeli tiket bus rute Siem Reap – Phnom Penh. Saya saat itu membeli tiket Capitol Bus, seharga 7 USD. Capitol Bus ini adalah pilihan yang saya ambil diantara banyak penyedia perjalanan antar kota, karena dari hasil riset saya pada pengalaman orang menggunakan bus ini cukup baik. Dan menurutku harga 7 USD cukup murah lah untuk sebuah bus ekonomi ac yang akan menempuh perjalanan sekitar 8 jam. Lagipula tiket bus vip sangat mahal, jadi cuma mampu beli tiket bus ekonomi ac. Saya paham saya harus berhemat, karena perjalanan masih panjang. Selama yang murah masih nyaman, tidak masalah untuk dicoba.

 

Tiket sudah ditangan, saatnya mencari sarapan dulu, karena perut sudah mulai keroncongan. Saya mampir sarapan pagi di warung yang saya datangi kemarin siang. Kali ini saya sarapan dengan menu ikan goreng, sayur jantung pisang dan minumnya es tebu dua gelas. Menurutku menu makanan yang disajikan disini mirip dengan menu makanan daerah di Indonesia, dan harganya juga masuk akal. Total yang saya bayarkan saat itu 2 USD. Harganya murah, makanannya enak, dan juga porsinya mengenyangkan hehe.. Setelah sarapan, saya langsung kembali ke penginapan untuk mandi dan packing, karena sebentar lagi bus nya akan berangkat.

Pukul 12.15 saya pergi ke travel tempat saya beli tiket tadi. Letak travel ini cukup dekat dari penginapan, jadi bisa dicapai dengan berjalan kaki saja. Di sini sudah banyak menunggu calon penumpang lainnya, namun sepertinya cuma saya sendiri yang turis, sementara calon penumpang lainnya adalah orang asli setempat alias orang kamboja. Pukul 13.00 kami semua dipanggil dan diarahkan untuk naik kendaraan kecil, seperti mobil travel cipaganti Jakarta-Bandung gitu.

Saya cukup senang saat itu karena saya pikir saya akan naik mobil itu sampai ke Phnom Penh, ternyata tidak. Setelah sekitar 5 menit dalam perjalanan, mobil tersebut masuk ke dalam halaman kantor perusahaan Capitol Bus. Ohhhh.. Ternyata kami di drop disana untuk selanjutnya naik bus besar. Jadi semua calon penumpang pengguna jasa Capitol Bus tujuan kemana saja, didrop kesini dulu oleh beberapa travel agen, dengan menggunakan mobil atau tuk-tuk. Dan dari sini semuanya akan naik ke Bus besar sesuai tujuannya masing-masing.

220140607_141623

Capitol Bus

320140607_141646

Penumpang mencari bus sesuai destinasinya masing-masing

Sekitar 15 menit berada disana, kami lalu diberangkatkan ke Phnom Penh. Saat itu saya memilih duduk di jejeran terdepan di belakang sopir. Biar lebih luas, leluasa mengambil foto, dan tidak mual/mabuk selama perjalanan. Saya perhatikan di dalam bus saat itu tidak ada traveler bule, yang ada hanya sepasang traveler muda dari Korea. Sisanya adalah warga Kamboja sendiri. Saat itu tidak banyak kursi yang terisi oleh penumpang, jadi banyak penumpang yang bebas memilih tempat duduk. Untuk interior busnya, lumayan unik menurutku. Di beberapa bagian bus, terutama bagian depan tepatnya di ruang sopir banyak hiasan warna warni, ada dupa, dan juga beberapa tempelan poster bergambar Buddha.

520140607_141928

Turis Korea

4DSC_5268

Ruang kemudi sopir sudah mirip kamar kos

Bus berjalan cukup pelan, selama kurang lebih setengah jam, dan berhenti di terminal Siem Reap. Di terminal ini naik lagi penumpang baru, yang saya pastikan mereka semua orang kamboja. Dan saya semakin yakin bahwa orang asing di dalam perjalanan ini hanya ada 3 orang, yaitu sepasang turis dari korea tadi, dan seorang pria tampan dari Indonesia. Ehmm… Setelah semua penumpang naik, dan kursi terisi penuh, bus lalu melaju ke kota Phnom Penh.

6DSC_5270

Jalan berdebu

Bus yang saya tumpangi berjalan santai, tidak ngebut dan tidak juga lambat. Kadang bus ini juga harus berhenti sejenak di tengah jalan menunggu para sapi yang sedang menyebrang jalan. Mirip sekali dengan suasana di Indonesia, jika kita melakukan perjalanan di Sulawesi atau Sumatera.

DSC_5273

Jalanan dibajak sapi

Saya asyik melihat pemandangan diluar jendela, nampak rumah-rumah tradisional orang Kamboja yang unik. Langit saat itu cukup cerah, udara agak panas. dan jalan yang kami lalui sangat berdebu. Sepertinya dari total panjang jalan dari Siem Reap sampai ke Phnom Penh, setengahnya adalah jalan berdebu. Ya cukup memaklumi, karena sedang ada pekerjaan pelebaran dan pengaspalan jalan di rute ini. Beberapa kali kami melewati jalan dengan debu yang sangat pekat, sampai menghalangi pandangan dan membuat bus berjalan pelan.

DSC_5279

Rumah tradisional kamboja

DSC_5292

Perjalanan Siem Reap – Phnom Penh

Di dalam mobil saya duduk berdampingan dengan seorang pria Kamboja. Dia memperkenalkan diri dengan nama Mr Smey. Kami banyak mengobrol, dan saya sempat bertanya tentang suatu kota yang ingin saya datangi yaitu Kota Banlung di Propinsi Rattanakiri. Mendengar pertanyaan saya, Mr Smey langsung menyambut dan berkata bahwa dia berasal dari kota itu. Dia juga berkata bahwa dia sedang melakukan perjalanan untuk mengembangkan usahanya di bidang pariwisata antar kota. Disitulah obrolan kami mulai nyambung, dan kami bertukar nomor hp. Kebetulan saya memiliki simcard lokal kamboja yang saya gunakan untuk internetan di smartphone. Mengakhiri obrolan, dia berpesan bahwa jika ingin ke kota Banlung, kami bisa berangkat bersama. Dia akan memberi kabar dalam waktu dua hari ini tentang kepastian ke Banlung. Siplah.

Setelah mengamati pemandangan selama perjalanan, menjepret beberapa foto, dan mengobrol dengan teman duduk, saya pada akhirnya ketiduran. Dan ketika bangun, tau-tau pemandangan sudah gelap. Sudah malam rupanya. Bus yang saya tumpangi tiba di Kota Phnom Penh pukul 22.00 malam, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 8 jam. Kalau menurutku perjalanan ini cukup lambat karena bus berjalan pelan alias tidak ngebut, kondisi jalan yang kurang baik, dan kami sempat mampir tiga kali ke rest area. Seandainya kami naik kendaraan yang lebih kecil, ngebut, dan mengurangi persinggahan ke rest area, perjalanan ini mungkin bisa ditempuh selama 5 jam saja.

Sudah sampai di Kota Phnom Penh, dan saya langsung naik ke tuk-tuk dan memintanya mengantarkan saya ke sebuah hostel bernama 11 Happy Backpacker. Saya membayar sopir tuk-tuk seharga 4 USD, dan dengan senyum sumingrah dia pamit dan tancap gas, menghilang dari pandangan.

20140607_225729

Naik tuk tuk menuju Hostel

11 Happy Backpacker adalah penginapan dengan tinggi bangunan empat lantai, tanpa lift. Lantai pertama untuk bar dan loby, dimana disana saat itu banyak nongkrong para traveler dari berbagai negara. Kemudian lantai 2 untuk tipe kamar private room yang tentu agak mahal, dan lantai 3 untuk tipe kamar dorm. Sementara lantai 4 adalah roof top café, semacam tempat nongkrong, dan disana juga terdapat meja bilyard.

Saya menginap disana dengan harga sewa kamar untuk tipe dorm sebesar 5 USD permalam. Lumayan lah untuk penginapan murah di ibukota. Saya menempati dorm ber ac dengan kamar yang berbentuk memanjang. Total bed nya sebanyak 10 buah, dengan format bertingkat. Sementara kamar mandinya sudah pasti sharing juga. Letaknya persis di depan pintu kamar, di bagian luar. Terdapat 2 kamar mandi untuk tamu yang menghuni kamar tipe dorm ini. Oh ya, kamar ini adalah dorm campur, dimana penghuni pria dan wanita bisa menempati dorm ini. Saya langsung mencaplok tempat tidur kedua dari pintu, dan menempati kasur yang bagian atas.

DSC_5673

Tempat menginap selama di Phnom Penh

Habis mengecek kamar dan meletakan tas, saya langsung turun dan keluar dari penginapan untuk melihat lihat bagaimana situasi di luar penginapan. Saya berjalan kaki menelusuri pedestrian, melewati bar dengan lampu kerlap kerlip, dan rupanya banyak wanita berpenampilan sexy berdiri menggoda di depannya. Saya jalan lurus saja, tidak menghiraukan ajakan pria dan wanita disepanjang jalan untuk masuk ke dalam sana. Saya sempatkan masuk di Phnom Penh Night Market untuk mengganti baterai jam tangan, terus pulang kembali ke penginapan, karena night market tersebut sudah tutup.

20140607_234151

Phnom Penh Night Market menjelang mau tutup karena sudah larut malam

Rasanya perjalanan untuk hari ini sudah cukup. Saya menuju kamar, mengganti pakaian, mengambil wudhu lalu sholat diatas tempat tidur. Sementara para traveler yang mengisi kasur yang lain sepertinya memperhatikan saya yang sedang sholat.

Rasa lelah yang saya alami beberapa hari ini sebenarnya tak ada apa-apanya dengan kepuasan yang saya dapatkan. Terima kasih pada Allah SWT, dan saya berharap selalu mendapatkan kemudahan dan kesehatan selama melakukan perjalanan. 🙂

Malam Terakhir di Siem Reap

Pagi ini saya bangun dengan badan yang segar. Rasa capek yang saya rasakan kemarin karena menjelajahi Angkor Wat seharian sudah cukup terobati dengan tidur lelap semalaman. Dan hari ini rencananya saya akan ke Tonle Sap, sebuah danau luas di selatan kota Siem Reap. Kabarnya danau Tonle Sap ini merupakan danau terbesar di Asia Tenggara. Dan uniknya adalah ukuran danaunya mengecil saat musim panas, dan meluas saat musim hujan. Nah Karena jarak Tonle Sap ini agak jauh, jadi saya putuskan untuk menyewa sepeda. Sebuah sepeda berhasil saya tawar dengan harga 2 USD untuk sehari penuh. Dan sebagai jaminan, ada dua pilihan untuk bisa meminjam sepeda tersebut, yaitu menitipkan uang dengan jumlah besar atau menitipkan paspor. Saya memilih untuk menitipkan sejumlah uang yang itupun saya tawar lagi, karena saat itu saya hanya membawa uang sedikit.

x20140606_081623

Bukti penyewaan sepeda, harus disimpan baik-baik, jangan sampai hilang

xDSC_5200

Transportasi Lokal 😀

Saya mulai mengayuh sepeda, menelusuri jalan yang sudah saya pelajari sebelumnya dari google map dan peta yang saya ambil di airport. Jadi ini juga bisa menjadi tips buat traveler, saat tiba di airport daerah tujuan, biasanya di bagian pintu keluar banyak tersedia brosur wisata yang memuat berbagai daya tarik wisata dan juga peta sebarannya. Peta ini juga tersedia di travel agen, restoran, dan penginapan, yang bisa kita minta dan mereka akan dengan senang hati memberikannya secara cuma-cuma. Nah peta wisata inilah yang saya jadikan pegangan manual, karena cukup detil.

Sebelum semakin jauh mengayuh, saya menyempatkan diri untuk mampir sarapan dulu. Kebetulan ada gerobak mie goreng yang dikerumuni warga setempat. Saya membeli sepiring Mie goreng yang rupanya porsi lumayan banyak, tapi haragnya hanya 1 USD saja. Rasanya lezat 🙂

x20140606_083452

Ini mie gorengnya

xDSC_5203

Ini penjualnya 🙂

Sambil sarapan, saya berpikiran untuk mengurungkan saja niat saya ke Tonle Sap, karena beberapa alasan:

Pertama, jarak Tonle Sap lumayan jauh dari kota Siem Reap, yaitu 15 kilometer. Perkiraan saya, bisa sampai 2 jam saya mengayuh sepeda untuk sampai kesana. Dan saya tidak sanggup mengayuh sejauh itu dengan cuaca yang sangat panas.

Kedua, dari hasil riset saya di beberapa website dan blog beberapa diantaranya menyebutkan kalau di Tonle Sap banyak Scam yang memanfaatkan wisatawan, dengan memperlihatkan kemiskinan masyarakat sebagai daya tarik wisata. Mereka juga suka memaksa wisatawan untuk melakukan donasi dengan jumlah yang besar. Belum lagi disana banyak penjual souvenir yang memaksa pengunjung untuk membeli. Jadi isi dompet pengunjung bisa dikuras oleh masyarakat. Jadi atas pertimbangan itu, saya memutuskan untuk jalan-jalan di dalam kota saja.

xDSC_5211

Suasana yang tidak jauh berbeda dengan di kampung saya

Setelah cukup kenyang dengan seporsi mie goreng, saya mengayuh sepeda kembali ke dalam kota, untuk melihat-lihat lebih banyak bagaimana kondisi kota Siem Reap. Menurutku, kota ini sedang dalam proses perkembangan yang pesat. Saya banyak melihat pembangunan di sana sini, seperti pelebaran jalan, perbaikan drainase, pembuatan trotoar, dan pembangunan beberapa gedung. Katanya sih itu gedung ruko dan penginapan untuk wisatawan. Tapi memang, Siem reap menjadi kota kedua terbesar di Kamboja setelah ibukotanya Phnom Penh. Ini juga berkat keberadaan Angkor Wat sebagai daya tarik wisata. Kemajuan industri pariwisata menjadikan kota Siem Reap ramai dengan bebagai fasilitas pariwisata, dari penginapan, restoran dan bar, penjual kerajinan dan souvenir, jasa transportasi, pijat, dan lain sebagainya. Beberapa bagian kota ini juga sedang dibuat secantik mungkin, ruas jalan yang bersih, jalur pedestrian yang cukup luas, pepohonan di kedua sisi jalan, dan juga taman-taman bunga yang menghiasi wajah kota.

xDxSC_5194

Suasana dalam kota yang rindang

xDSC_5259

Masih di dalam kota, sejuk, hijau, dan kalinya bersih dari sampah.

x20140606_120013

Selfie dulu sama pak polisi

Saya menyempatkan diri untuk mampir ke tempat ibadah umat Buddha yang terkenal dalam kota ini, namanya Wat Preah Prom Rath. Lokasinya berada di pusat kota Siem Reap di kawasan turis area, dan juga di tepi sungai Siem Reap. Disana saya mengamati keindahan arsitektur bangunan rumah ibadah penganut ajaran budhha ini dan juga memperhatikan warga dan biksu yang sedang beribadah. Tempat ini tampak bersih dan cantik, dengan bangunan yang megah dan penuh ukiran-ukiran khas etnik kamboja. Karena merasa tidak sopan jika saya masuk sampai ke dalam gedung, jadi saya hanya masuk ke halaman dan memperhatikan dari luar bangunan saja. Serasa mengunjungi museum atau pura di Bali, indah sekali. Saya beranggapan kalau tempat ini juga berfungsi semacam “pesantren” bagi pengikut Buddha, karena disana saya melihat ada semacam asrama dan juga ada kelas tempat belajar. Isinya ada biksu dengan pakaian khasnya, dan ada juga warga dengan berpakaian rapi. Kebetulan saat itu mereka sedang belajar mata pelajaran bahasa inggris.

xDSC_5216

Wat Preah Prom Rath

xDSC_5218

Wat Preah Prom Rath

xDSC_5237

Lagi pada belajar

Setelah saya rasa cukup mengunjungi tempat ibadah ini, saya pun lanjut lagi dengan mengayuh sepeda tak tentu arah menelusuri jalan yang belum saya lewati. Kadang jalan yang saya lewati sangat rindang dengan pepohonan, dan kadang sangat terik, tandus dan berdebu. Saat sedang asyik mengayuh sepeda, tiba-tiba ban sepeda saya kempes. Beruntung seorang biksu muda yang kebetulan melintas mengarahkan saya untuk menuju sebuah pertokoan yang tidak jauh dari situ, hanya berjarak sekitar 200 meter untuk bertemu sebuah bengkel.

x20140606_112539

Ban kempes 😦

Saat saya tiba di bengkel, tanpa diminta seorang pekerja bengkel langsung datang menghampiri saya, mengambil sepeda dan membawanya ke tempat mereka mengerjakannya. Padahal saya belum bilang sepatah kata pun pada pekerja bengkel itu. Disana saya hanya perlu menunggu sekitar 10 menit dan membayar biaya 2ribu KHR (sekitar 0,4 USD) di kasir, lalu pekerja bengkel itu datang membawa sepeda saya yang sudah diperbaiki, sambil memegang sebuah mur kecil yang menjadi penyebab ban saya bocor. Semua diluar dugaan, harganya murah dan pengerjannya sungguh cepat. Saya kagum lah..

Hari sudah siang, udara makin gerah dan sinar matahari makin menyengat, saya putuskan mengayuh sepeda menuju arah pulang. Sampai di penginapan, saya menyebrang jalan menuju sebuah warung kaki lima untuk menunaikan ritual makan siang 😀 . Disana saya membeli makanan seekor ikan sejenis gurame besar, sayuran, dan seporsi nasi. Minumnya saya pesan es tebu, dengan total harga keseluruhan adalah 1 USD dan 2000 riel. Cukup murah dan mengenyangkan, kira-kira dengan harga 15 ribu rupiah. Saya makan disana sambil ngobrol dengan warga setempat yang kami saling susah mengerti bahasa satu sama lain. Tapi saya cukup paham kalau dia ingin memberitahu saya bahwa ikan besar yang saya makan itu enak, khas berasal dari danau Tonle Sap dan itu favorit orang Siem Reap.

xDSC_5263

Makan di warung kaki lima

Waktu menunjukan sudah pukul 1 siang dan udara semakin panas. Panasnya tidak biasa, tapi sungguh sangat menyengat. Saya memutuskan untuk pulang beristirahat di penginapan, kebetulan kamar yang saya tempati pakai AC, jadi bisa ngadem dulu sebentar.

Saya baru mau keluar kamar saat menjelang magrib, saking gerahnya udara diluar. Saya mengembalikan sepeda ke tempat penyewaan, lalu mampir mengunjungi Siem Reap Night Market yang lokasinya tidak jauh dari penginapan, kira-kira 150 meter saja. Night Market dari namanya pasti kita sudah tau, bahwa ini adalah pasar malam (ya iyalah haha..). Pasar Malam ini menjual berbagai souvenir yang unik-unik hasil kerajinan tangan masyarakat Siem Reap. Ada replika patung atau candi-candi Angkor Wat, ada baju kaos, ada gelang, kalung, dan banyak lagi. Disana juga terdapat beberapa penjual makanan unik khas Siem Reap, dan juga café. Meskipun namanya night market tapi sebenarnya aktivitas jual beli disini juga ada saat siang hari. Dan pasar ini menjadi semakin ramai dikunjungi sejak sore sampai malam. Dari beberapa pajangan souvenir di Night Market ini, saya tertarik untuk membeli dua buah gelang dan patung patung kecil, dengan total harga 4USD.

x20140606_235206

Memasuki Siem Reap Night Market

x20140606_195137

Salah satu lapak di Night Market

Setelah belanja souvenir di Night Market, saya lalu menemui travelmate cina untuk makan malam bersama di sebuah rumah makan yang cukup ramai di dekat Street 08. Ini adalah malam perpisahan kami karena besok kami akan menuju destinasi yang berbeda-beda. Ada yang pulang ke China, ada yang masih menetap di Siem Reap, dan ada yang ke Thailand. Saya sendiri besok berencana akan ke Phnom Penh, ibu kota negara Kamboja.

Camera 360

Dinner sama teman-teman

xIMG_1175

Tukaran email 😀

Malam itu kami larut dalam obrolan yang sangat akrab, serasa kami sudah saling kenal lama. Sedikit membuka pandangan saya tentang orang China, ternyata mereka juga orangnya baik-baik, dan lucu. Dua orang pria china berasal dari Xinjiang, dua orang wanita berasal dari Chongqing, dan satu orang wanita tomboy berasal dari Beijing. Dan saya rasa saya cocok dengan mereka semua.

Setelah 2 jam berlalu, makan malam selesai, dan tibalah saatnya kami pamit-pamitan. Kami saling berpelukan, dan sangat terasa seperti kami adalah teman yang sangat akrab dalam perjalanan ini, terutama saat kami seharian menjelajah Angkor Wat. Namun sayang sekali sepertinya kedepannya kami kesulitan untuk berkomunikasi dengan sosial media, sebab Line, Facebook, dan instagram di China tidak bisa digunakan. Akhirnya kami hanya bisa bertukar alamat email saja.

Setelah dinner, saya lanjutkan untuk menelusuri jalan di tourist area dengan berjalan kaki, karena saya penasaran dengan situasi kota Siem Reap di malam hari. Saya mampir nongkrong di sebuah café yang ramai, namanya Red Piano, minum jus mangga sambil wifi-an.

Lalu saat waktu menunjuk pukul 11 malam, musik dari beberapa café dan bar agak dikencangkan. Saya mulai berpindah tempat, meninggalkan Red Piano dan menuju ke sebuah bar bernama The Angkor What? Bar. Bar ini berhadapan dengan bar lain yang berada di seberang jalan, dan katanya pada malam hari diatas pukul 11 malam, bar tersebut akan berubah menjadi night club. Saat itu disana suasananya sangat ramai. Dan benar saja café dan bar yang letaknya berhadap-hadapan, seketika menjadi tempat dugem. Para traveler berbaur dengan warga lokal, dan bergoyang mengikuti irama musik. Mereka bergoyang sambil memegang botol bir dan minuman lainnya. Pengunjung tumpah ruah ke jalan, seketika merubah jalanan aspal menjadi lantai dansa. Ramai sekali.

x20140607_013624

Angkor What? Bar

Beginilah kehidupan malam di salah satu ruas jalan kota Siem Reap. Terlihat mirip dengan jalan legian Bali di malam hari. Ramai pengunjung, didominasi oleh wisatawan berusia muda yang doyan bersenang-senang.

Jam satu malam, saya memtuskan pulang ke penginapan. Pertualangan hari ini selesai J

Angkor Wat Yang Spektakuler

Pagi hari pukul 4.30 saya dan 4 orang travelmate dari Cina telah berkumpul kembali di tempat yang telah kami sepakati. Disana juga sudah menunggu sopir tuk-tuk yang kami sewa kemarin. Tidak menunggu lama, kami langsung berangkat ke Angkor Wat, dengan tuk-tuk yang ukurannya sedikit lebih besar dari yang kemarin. Ternyata memang pak sopirnya ingin agar kami berlima bisa muat dalam satu tuk-tuk saja.

DSC_4690

Ayo kita lets goo 😀

Setengah jam perjalanan dalam kegelapan dan udara pagi yang dingin, akhirnya kami sampai di tempat pemberhentian candi yang pertama, dan yang utama, yaitu Angkor Wat. Tidak lupa membuat janji dengan pak sopir akan bertemu dimana nantinya setelah mengunjungi candi yang ini.

Saat kami sampai di pelataran candi utama Angkor Wat, kami agak terkejut karena ternyata sudah sangat ramai sekali pengunjung disana, dan kebanyakan siap dengan kamera DSLR dan tripodnya. Memang menyaksikan matahari terbit dari Angkor wat adalah saat yang ditunggu-tunggu bagi wisatawan terutama fotografer. Pada saat itu matahari akan terbit dari belakang menara candi, dan candi jadi nampak siluet. Lalu di depan candi tersebut ada kolam besar yang menjadi cermin alami, sehingga bayangan candi yang siluet di kolam tersebut kelihatan jelas, dan keseluruhan pemandangan jadi semakin cantik. Sayangnya, dengan kondisi pencahayaan yang kurang, dan tanpa tripod, hasil jepretan saya kurang bagus, dan ternyata filter CPL yang menempel di lensa lupa saya lepaskan sehingga hasil jepretan saya makin buruk.

DSC_4713

Turis datang lebih pagi karena ingin melihat sunrise dari balik candi ini

DSC_4745

Rame Sekali

Tips untuk mendapatkan foto yang bagus disini adalah, membawa tripod, dan segera berlumba untuk dapat tempat di depan (di tepi kolam) untuk memotret, maklum banyak sekali pengunjung disana yang ingin mengabadikan momen yang sama.

Angkor wat merupakan kompleks candi Buddha terluas di dunia, sekaligus menjadi monumen religi terbesar di dunia. Awalnya kompleks ini dibangun sebagai tempat peribadatan umat Hindu bagi kerajaan Khmer, lalu berangsur-angsur berubah menjadi tempat peribadatan umat Buddha di akhir abad ke 12. Saat ini keagungan Angkor Wat diabadikan menjadi lambang bendera nasional negara Kamboja.

Flag_of_Cambodia

Bendera Negara Kamboja

Karena menjadi candi paling tua di Kamboja, Angkor Wat rawan mengalami kerusakan. Berbagai kerusakan Angkor Wat umumnya disebabkan oleh jamur, lumut, gempa bumi, perang, pencurian, maupun tumbuhnya tanaman di candi. Namun pemerintah dengan gencar sekali melakukan preservasi dan konservasi, sehingga beberapa bangunan candi dalam kompleks Angkor Wat bisa diperbaiki kembali.

Nah sebenarya penamaan Angkor Wat ini lumayan membingungkan karena disatu sisi bisa merujuk pada nama keseluruhan kompleks percandiannya, dan disisi lain bisa merujuk pada nama salah satu candinya saja, yaitu candi yang utama tempat berburu sunrise ini.

DSC_4804

Dulu cuma lihat-lihat gambarnya, akhirnya bisa kesini juga 😀

DSC_4836

Salah satu sudut dalam angkor wat temple

IMG_1270

Foto keluarga 😀

DSC04268

Halow.. 🙂

DSC_4821

Di Bagian belakangnya

DSC_4838

Sekitar jam 7 pagi, turis-turis mulai semakin banyak berdatangan.

Tepat pukul 08.00 kami kembali berkumpul di depan pelataran candi utama Angkor Wat, tempat dimana tadi pagi kami diturunkan oleh si sopir. Kami saat itu langsung naik ke Tuk Tuk dan melanjutkan perjalanan ke candi selanjutnya, yaitu Angkor Thom. Di tengah perjalanan kami berhenti sejenak di sebuah jembatan pintu selatan Angkor Thom yang sangat indah, yang disebut dengan South Gate Bridge. Jembatan ini membentang diatas parit yang lebar, dengan konstruksi yang cantik. South Gate Bridge merupakan jembatan tua yang seusia dengan candi-candi di kompleks Angkor Wat. Di kedua sisi jembatan, nampak patung-patung yang berbaris seolah-olah sedang menggendong badan ular berkepala banyak. Lalu di ujung jembatan terdapat pintu gerbang candi yang akan membawa kita masuk ke dalam kompleks Angkor Thom.

DSC_4850

Bergaya di South Gate Bridge

DSC_4840

Jembatan yang keren sekali ya

DSC_4864

Jembatan yang membelah parit yang lebar

DSC_4899

Ada kera juga disini 🙂

DSC_4901

Pagi yang indah 🙂

Puas foto-foto disana, kami lanjut ke tujuan kami selanjutnya yaitu Angkor Thom. Di tengah candi Angkor Thom yang sebagiannya dalam bentuk reruntuhan, berdiri megah sebuah candi yang disebut Prasat Bayon. Bayon adalah salah satu candi dalam kompleks Angkor wat yang dibangun pada akhir abad ke 12 hingga awal abad ke 13 atas prakarsa Raja Jayawarman VII. Candi ini dibangun sebagai representasi Gunung Meru, yaitu pusat alam semesta dalam kosmologi Hindu dan Buddha. Tidak seperti candi lainnya, Bayon tidak dikelilingi oleh parit dan tembok dengan pintu gapura sebagai pertahanan. Para Arkeolog berpendapat bahwa Candi Angkor Thom yang mengelilingi Bayon sudah mewakili fungsi parit dan tembok tersebut. Keunikan dari candi Bayon ini adalah terdapat banyak menara-menara candi yang berbentuk wajah misterius, yang menghadap ke empat arah mata angin.

DSC_4984

Bayon Temple, yang dipagari oleh Angkor Thom

DSC_5003

Bayon Temple

DSC_5020

Ibu ini menawarkan dupa untuk berdoa, dan dimintai bayaran.

DSC_5046

Candi dengan motif wajah yang menghadap ke 4 penjuru mata angin

DSC_5066

Diluar candi banyak anak kecil bermain

Setelah puas berada di Angkor Thom dan Bayon, kami lanjut lagi ke tempat berikutnya dengan hanya berjalan kaki, karena letaknya berhadapan. Kami menuju sebuah bangunan kuno yang nampak unik, yang diberi nama The Terrace of Elephants, karena banyak terdapat ukiran patung berbentuk gajah. Bangunan kuno berbentuk panggung/teras dengan panjang sekitar 350 meter ini dulunya digunakan sebagai tempat untuk menyaksikan upacara rakyat, atau tempat bagi raja memberikan arahan bagi rakyatnya. Teras dengan tinggi sekitar 3 meter ini memiliki 5 buah tangga, yang pada setiap sisi tangganya dihiasi oleh ukiran patung gajah, dan di bagian atasnya terdapat sebuah patung Lion. Sementara itu di tembok teras ini dihiasi oleh relief yang cantik yang kira-kira bercerita tentang keadaan pada masa lampau.

DSC_4974

Terrace Of Elephant

DSC_4971

Salah satu sudut Terrace Of Elephant

DSC_5093

Sudut lain Terrace Of Elephant

Di belakang Terrace of Elephants, saya melihat sebuah pos Indonesia, yang di dindingnya terpajang poster dengan deskripsi singkat mengenai upaya rehabilitasi Angkor Wat. Disana juga tertulis bahwa Indonesia sudah berhasil melakukan preservasi, konservasi dan rehabilitasi beberapa candi-candi kuno besar seperti candi prambanan, Borobudur, dsb, dimana candi yang tadinya tampak hancur tidak beraturan, berhasil ditata kembali sesuai dengan bentuk sebenarnya. Dan tim dari Indonesia tersebut turut membantu proses preservasi, konservasi, dan rehabilitasi bangunan kuno dalam kompleks Angkor Wat. Bangga… Prok..prok..prok..

DSC_5077

Pos Kerja Sama Indonesia – Kamboja

DSC_5078

Deskripsi singkat candi borobudur yang berhasil di perbaiki

Di sudut depan Terrace of Elephants terdapat sebuah rest area, dimana banyak lapak-lapak pedagang yang menjajakan aneka makanan dan minuman bagi pengunjung. Disini saya dan para travelmate beristirahat sejenak sambil memesan makan dan minum. Harga makanan dan minuman di rest area ini cukup mahal jika dibandingkan dengan harga jual di luar area Angkor Wat. Jadi sebaiknya persiapkan bekal makan dan minum sebelum masuk Angkor Wat untuk menghemat pengeluaran.

DSC_5097

Salah Satu warung dalam kompleks Rest Area

DSC_4932

Tepat di belakang Rest Area juga terdapat candi yang runtuh

DSC_4953

Berdoa

Setelah kenyang dan cukup istirahat, kami kembali naik ke tuk-tuk dan melanjutkan perjalanan ke candi berikutnya. Kami melewati jalan aspal mulus yang sepi, ditengah rimbunnya pepohonan, dan sesekali kami berpapasan dengan tuk-tuk berisi rombongan turis lain dari arah yang berlawanan.

DSC_5100

Lanjut jalan lagi 🙂

Di tengah perjalanan sopir tuk-tuk berhenti dan meminta kami turun sebentar. Kami diajak mampir ke salah satu candi yang tidak begitu populer, tapi katanya tidak rugi untuk dikunjungi. Candinya agak kecil, dan terletak persis di tepi jalan poros. Karena memang tidak rugi untuk dikunjungi, ya kami semua turun untuk foto-foto disana. Saya sendiri lupa nama candinya apa, tapi lumayan unik. Disekitar candi itu kami juga menjumpai beberapa orang yang sedang asyik duduk melingkar minum bir sambil menyanyi dengan diiringi alat musik tradisional. Mereka tetap tersenyum melihat kami sambil terus menyanyi lagu dengan bahasa mereka.

DSC_5104

Salah satu candi yang kami singgahi, entah namanya apa

DSC_5120

Masyarakat yang sedang bersenang-senang 🙂

Setelah berfoto-foto di candi kecil itu kami lalu melanjutkan perjalanan lagi ke candi selanjutnya, dan ini adalah candi terakhir sekaligus candi yang cukup spektakuler, yaitu Ta Phrom. Untuk mencapai Ta Phrom, kami naik tuk-tuk lagi sekitar 1 kilometer dari candi kecil, dan diturunkan oleh sopir tuk-tuk ditepi jalan yang menjadi pintu masuk ke Ta Phrom. Disana sudah menunggu banyak anak-anak yang menjual air minum, cemilan, dan berbagai souvenir yang dijajakan kepada wisatawan. Dari tempat kami turun tersebut kami harus berjalan kaki sekitar kurang lebih 200 meter di dalam hutan yang rindang untuk mencapai Ta Phrom. Sementara pak sopir tuk-tuk akan menunggu di pintu keluar yang berbeda dari tempat menurunkan kami tadi.

DSC_5123

Di depan pintu masuk Ta Phrom, ada yang menjual Pong Tia Koon, yaitu telur ayam rebus (yang sudah ada embrionya didalam). Makanan khas kamboja. Kalau di Filiphina namanya Balut.

DSC_5124

Jalan Kaki sejauh kurang lebih 200 meter dari tempat kami diturunkan

DSC_5128

Memasuki Ta Phrom

Ta Prohm merupakan candi tempat syuting film Tomb Raider, yang diperankan oleh Angelina Jolie. Candi ini keren bukan karena pernah dijadikan lokasi syuting film Tomb Raider, malah karena candi ini sangat keren lah sehingga digunakan sebagai lokasi syuting film tersebut. Betapa tidak, candi yang megah, dengan aura yang cukup mistis (menurutku), juga dikelilingi oleh pohon-pohon besar, malah pohon-pohon besar tersebut tumbuh diatas candi, dengan akar-akar besar yang mengikat tembok candi sampai ke tanah. Saya sangat takjub melihat pemandangan seperti ini. Kesan tua yang ditampilkan candi ini sangat terasa. Saya berasumsi jika pohon-pohon tersebut usianya sudah sangat tua, hingga ratusan tahun. Dulunya memang saat semua candi dalam kompleks Angkor Wat ini ditemukan, kondisinya sebagian besar dalam keadaan rusak berat. Beberapa bangunan-bangunan candi hancur porak-poranda, tertutup tanah, dikelilingi oleh pohon-pohon besar, ditumbuhi rerumputan dan juga ditumbuhi pepohonan, tidak terkecuali Ta Prohm. Sebagian pohon-pohon besar yang tumbuh diatas candi tersebut ditebang dan disingkirkan untuk keperluan konsrevasi bangunan candi. Bangunan-bangunan yang berbahaya bagi pengunjung atau berpotensi semakin rusak juga diperbaiki, sehingga candi Ta Prohm ini kelihatan lebih cantik, dan dikembalikan sesuai dengan bentuk aslinya, meskipun memang ada saja beberapa bangunan candi yang dibiarkan tetap rusak atau berantakan. Pada beberapa sudut candi nampak panggung kayu yang dipagari tali yang dijadikan sebagai tempat berfoto bagi pengunjung. Salah satu bagian unik di kompleks candi ini juga adalah patung wajah Buddha yang muncul dari sela-sela akar pohon besar, seolah-olah mengintip kami, membuat pengunjung semakin takjub.

DSC_5144

Candi ini keren sekali

DSC_5156

Salah satu pojok tempat syuting film Tomb Raider

DSC_5157

Wajah yang nongol disela-sela akar pohon 🙂

DSC_5173

Salah satu pojok yang runtuh dan akan di perbaiki

DSC_5172

Perbandingan kondisi salah satu sudut Ta Prohm sebelum dan sesudah perbaikan

Setelah berlama-lama di candi Ta Prohm, dan hari semakin sore kami kemudian bergerak menuju arah pulang. Kami berjalan kaki menuju parkiran di pintu keluar sejauh kurang lebih 200 meter, dimana sopir tuk tuk kami sudah menunggu disana.

Sopir tuk-tuk menyambut kami dengan senyumnya lalu menyapa bagaimana kepuasan kami seharian ini. Kami semua kompak mengatakan kalau candi-candi Angkor Wat sangat luar biasa, khususnya Ta Prohm. Hanya saja mengeluhkan soal harga minuman dan cemilan yang mahal di lingkungan Angkor wat. Apalagi buat backpacker seperti saya, yang harus menghemat segala pengeluaran demi perjalanan yang maksimal hehe..

Kami kemudian naik tuk-tuk menuju arah pulang ke Kota, namun lagi-lagi pak sopir memberhentikan kendaraannya dan meminta kami turun sebentar. Ternyata ada candi lagi di tepi jalan pulang. Katanya itu candi terakhir yang akan kami kunjungi, mumpung gratis. Yasudahlah kami turun, tapi saya tidak masuk ke candi itu, karena merasa sudah puas dengan melihat Ta Prohm, jadinya saya hanya mengobrol dengan pak sopir sementara teman-teman travelmate cina saya semua turun dan asyik foto-foto di candi.

DSC_5122

Bersama si abang sopir yang baik hati

Setelah kunjungan ke candi tersebut selesai, kami pun langsung pulang dan tidak mampir-mampir lagi. Pak sopir mengantar kami sampai ke pusat Kota, tepatnya di tempat kami berkumpul tadi pagi.

Hari ini adalah hari yang sangat sangat melelahkan. Dimulai dari kami harus bangun pagi untuk menyaksikan sunrise di Angkor Wat, sampai menelusuri beberapa candi yang sangat luas, dan pulang sekitar pukul setengah 5 sore. Kira-kira kami berada di kawasan Angkor Wat selama 12 jam. Sesampainya di penginapan saya langsung mandi, dan sholat, lalu tidur. Saya kebablasan tidur sampai jam 9 malam karena kecapean, padahal harusnya kami janjian makan bareng sama teman-teman di resto dekat penginapan.

 

Cerita perjalanan yang sangat menyenangkan dan melelahkan cukup sampai disini. Sebelumnya saya ingin kembali berpesan buat yang ingin ke Angkor Wat:

  1. Pertama, Lupakan niat kalian yang ingin naik sepeda dengan alasan ingin menghemat anggaran atau ingin lebih bebas, karena jujur, jarak dari kota sampai ke Angkor Wat itu jauh sekali. Sebaiknya pakai cara yang saya lakukan, yaitu dengan sharing cost alias patungan. Menyewa sepeda juga bisa sangat beresiko, karena dari hasil riset saya di beberapa blog dan pengalaman wisata orang lain, beberapa diantara mereka ada yang memiliki pengalaman buruk saat membawa sepeda ke Angkor Wat. Dimulai dari pengenaan biaya parkir oleh para scam di setiap candi, pengrusakan sepeda (ban bocor), sampai ada yang kehilangan sepeda karena dicuri orang. Kalau sudah kehilangan sepeda, maka otomatis kita akan dikenakan biaya ganti rugi oleh pemilik sepeda. Rugi kan.
  2. Kedua, jangan lupa membawa bekal roti dan air minum, karena disana kita akan mengeksplore banyak candi seharian penuh yang pastinya sangat melelahkan. Kita butuh bekal minum dan makanan sendiri, karena setidaknya kita akan mengurangi ketergantungan pada makan dan minum dari penjual di dalam area Candi, karena harga-harga makan minum di sana sangat mahal. Ya.. Sangat mahal..
  3. Ketiga, perhatikan musim kedatangan anda, karena bisa jadi saat anda mengunjungi Angkor Wat cuacanya sangat panas, seperti saat kedatangan saya di bulan juni. Jadi pakailah baju lengan panjang yang tipis biar tidak kepanasan. Jika perlu, bawalah topi. Jujur, saat kedatangan saya di kamboja udaranya sangat panas.
  4. Buat pecinta foto yang ingin mengabadikan sunrise di Angkor Wat, jangan lupa bawa tripod. Jika anda beruntung, anda bisa pinjam sama room mate atau turis lain yang kebetulan hari kunjungannya ke Angkor Wat berbeda dengan anda. Disini saya kurang beruntung, karena saya tidak punya room mate alias tidur sendirian di kamar, lalu travelmate saya adalah turis cina yang bukan pengguna DLSR yang ingin merepotkan diri dengan membawa tripod.

Sekian cerita saya seharian di Angkor Wat. Semoga bisa kesini lagi suatu saat nanti 🙂 🙂